Senin, 05 Februari 2018

KELAS KATA TUGAS (PREPOSISI, KONJUNGSI, INTERJEKSI, ARTIKULA, DAN PARTIKEL PENEGASAN)






















KELAS KATA TUGAS
(PREPOSISI, KONJUNGSI, INTERJEKSI, ARTIKULA, DAN PARTIKEL PENEGASAN)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di kawasan republik kita. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi “Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” dan pada Undang-Undang Dasar 1945 kita yang di dalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahwa “bahasa negara ialah bahasa Indonesia”.

Bahasa Indonesia yang amat luas wilayah pemakaiannya dan bermacam ragam penuturnya, mau tidak mau, takluk pada hukum perubahan. Faktor sejarah dan perkembangan masyarakat turut pula berpengaruh pada timbulnya sejumlah ragam bahasa Indonesia. Ragam bahasa yang beraneka ragam itu disebut “bahasa Indonesia” karena masing-masing berbagi teras dan inti sari bersama yang umum. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna umumnya sama.

Ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup sejumlah corak bahasa Indonesia yang masing-masing pada asasnya tersedia bagi tiap pemakai bahasa. Ragam ini, pemilihannya bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak bicara atau terhadap pembacanya. Perbedaan berbagai ragam bahasa itu tercermin dalam kosa kata dan tata bahasa.

Ragam bahasa dibedakan menjadi dua, ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Di dalam ragam bahasa tulis kita mengenal yang namanya tata bahasa. Kajian tata bahasa membahas dua aspek, yaitu aspek morfologi dan sintaksis. Morfologi atau ilmu bentuk kata adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Sintaksis adalah salah satu cabang linguistik yang membahas tentang kalimat. Dalam kajian sintaksis salah satu materi yang dibahas mengenai kelas kata.

Kelas kata adalah golongan kata dalam satuan bahasa berdasarkan kategori bentuk, fungsi, dan makna dalam sistem gramatikal. Untuk menyusun kalimat yang baik dan benar dengan berdasarkan pola-pola kalimat baku, pemakai bahasa haruslah mengetahui jenis-jenis kelas kata. Kelas kata dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi beberapa jenis, yakni verba, adjektiva, adverbial, dan nomina. Di samping kelas kata itu ada kelas kata yang lain yang mempunyai ciri khusus, yakni kata tugas.

1.2  Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut.
1.Mendeskripsikan batasan dan ciri kata tugas;
2.   Mendeskripsikan klasifikasi kata tugas;
3.   Mendeskripsikan pengertian masing-masing kata tugas;
4.   Mendeskripsikan penggunaan atau pemakaian kata tugas.

1.3  Rumusan Masalah
Makalah ini dibuat dengan perumusan masalah sebagai berikut.
1.      Bagaimanakah batasan dan ciri kata tugas;
2.      Bagaimanakah klasifikasi kata tugas;
3.      Bagaimanakah pengertian masing-masing kata tugas;
4.      Bagaimanakah contoh penggunaan atau pemakaian kata tugas.






BAB 2 KELAS KATA TUGAS
(PREPOSISI, KONJUNGSI, INTERJEKSI, ARTIKULA, DAN PARTIKEL PENEGASAN)

2.1 Batasan dan Ciri Kata Tugas
Kata tugas hanya memunyai arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, melainkan oleh kaitannya dengan kata lain dalam frase atau kalimat. Jika pada nomina seperti buku kita dapat memberikan arti berdasarkan kodrat kata itu sendiri-benda yang terdiri atas kumpulan kertas yang bertulisan-, untuk kata tugas kita tidak dapat berbuat yang sama. Kata tugas seperti danatau ke baru akan memunyai arti apabila dirangkai dengan kata lain untuk menjadi, misalnya, ayah dan ibu dan ke pasar (Alwi, 2003: 287).
Ciri lain dari kata tugas adalah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Jika verba datang kita dapat menurunkan kata lain seperti mendatangi, mendatangkan, dan kedatangan, tidak demikian halnya dengan kata tugas seperti dan dan dari. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab dan sampai, tetapi dari nomina sebab dan verba sampai yang bentuknya sama, tetapi kategorinya berbeda (Alwi, 2003: 287).
Berlainan dengan kelas verba, adjektiva, adverbia, dan nomina yang merupakan kelas kata terbuka, kelas kata tugas merupakan kelas kata tertutup. Dalam kelas kata terbuka kita dengan mudah menambah kata dan menerima unsur bahasa lain sebagai kata baru atau padanan kata yang telah ada. Dengan masuknya benda yang dapat melakukan penghitungan dengan cepat dalam kehidupan kita, kita menerima pula kata kalkulator. Kita juga menyerap kata klasifikasi sebagai padanan kata Indonesia pengelompokan. Contoh dalam kelas kata lain adalah verba mengedit, adjektiva moneter, dan adverbia rada (mahal). Hal seperti ini hampir tidak pernah terjadi untuk kelas kata tugas (Alwi, 2003: 287).

2.2 Klasifikasi Kata Tugas
Berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok, yaitu (1) preposisi, (2) konjungtor, (3) interjeksi, (4) artikula, dan (5) partikel penegas (Alwi, 2003: 288).
2.2.1 Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa (Chaer, 2008: 96). Misalnya kata didan dengan dalam kalimat.
-          Nenek duduk di kursi
-          Kakek menulis surat dengan pensil
Secara semantik preposisi ini menyatakan makna. Penjelasan makna untuk setiap preposisi dijelaskan pada tabel berikut.
No
Preposisi
Makna
Contoh Pemakaian
1
di, pada, dalam, atas, antara
tempat berada
-   Nenek tinggal di Bogor.
-   Ibuku bekerja di Jakarta pada Departemen Kesehatan.
-   Tulisannya dimuat dalam harian Pos Kota.
-   Terima kasih atas pemberian itu.
-   Depok terletak antara Jakarta dan Bogor.
2
Dari
arah asal
-   Dia datang dari Kediri.
-   Mereka baru kembali dari desa.
3
ke, kepada, akan, terhadap
arah tujuan
-   Mereka menuju ke utara.
-   Kami minta tolong kepada polisi.
-   Dia memang takut akan hantu.
-   Saya tidak takut terhadap siapa saja.
4
oleh
pelaku
-   Jembatan itu dibangun oleh pemerintah pusat.
-   Rumah sakit ini diresmikan oleh Gubernur DKI.
5
dengan, berkat
alat
-   Kayu itu dibelah dengan kapak.
-   Aku berhasil berkat bantuan saudara-saudara sekalian.
6
Daripada
perbandingan
-   Kue ini lebih enak daripada kue itu.
-   Masjid ini lebih tua daripada rumah nenekku.
-   Daripada mencuri lebih baik kita minta.
7
tentang, mengenai
hal/masalah
-   Mereka berbicara tentang gempa bumi.
-   Mengenai anak itu biarlah saya yang akan mengurusnya.
8
hingga/sehingga, sampai
akibat
-   Tukang copet itu dipukuli orang banyak hingga babak belur.
-   Jalan raya itu rusak berat sehingga tidak dapat dilalui kendaraan kecil.
-   Dia berjalan kaki sejauh itu sampai sepatunya hancur.
9
untuk, buat, guna, dan bagi
tujuan
-   Ibu membeli sepeda baru untuk adik.
-   Beliau membawa oleh-oleh buat kami.
-   Guna kepentingan umum kami rela berkorban.
-   Bagi saya uang seribu rupiah besar artinya.

Menurut (Kridalaksana, 2008: 95) preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase eksosentrif direktif.
Jika ditinjau dari perilaku semantisnya, preposisi, yang juga disebut kata depan, menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi tersebut dengan konstituen dibelakangnya (Alwi, 2003: 288). Dalam frasapergi ke pasar, misalnya, preposisi ke menyatakan hubungan makna arah antara pergi dan pasar.
Jika ditinjau dari perilaku sintaksisnya, preposisi berada di depan nomina, adjektiva, atau adverbial sehingga terbentuk frasa yang dinamakan frasa preposisional (Alwi, 2003: 288). Dengan demikian, dapat terbentuk frasa preposisional seperti ke pasar, sampai penuh, dan dengan segera.
Jika ditinjau dari segi bentuknya, preposisi ada dua macam, yaitu preposisi tunggal dan preposisi majemuk (Alwi, 2003: 288). Berikut adalah jabaran mengenai bentuk serta makna preposisi.
a.      Preposisi Tunggal
Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata. Bentuk preposisi tunggal tersebut dapat berupa (1) kata dasar, misalnya di, ke, dari, dan pada, dan (2) kata berafiks, seperti selama, mengenai, dan sepanjang. Berikut penjelasan dari macam-macam preposisi tunggal.
1.      Preposisi yang Berupa Kata Dasar
Preposisi dalam kelompok ini hanya terdiri atas satu morfem. Berikut adalah contohnya.
No
Preposisi
Contoh penggunaan preposisi
1
akan
takut akan kegelapan
2
antara
antara anak dan ibu
3
bagi
bagi para mahasiswa
4
buat
buat teman-teman
5
dari
berasal dari Bogor
6
demi
demi orang tua
7
dengan
pergi dengan temannya
8
di
duduk di kursi
9
hingga
hingga sekarang
10
ke
pergi ke kantor
11
kecuali
kecuali buku
12
lepas
lepas pantai
13
lewat
lewat tengah malam
14
oleh
dibeli oleh Ati
15
pada
ada pada saya
16
per
per kilogram
17
peri
peri kehidupan
18
sampai
sampai pagi
19
sejak
sejak kecil
20
seperti
seperti kakak dan adik
21
serta
lemari dan meja serta kursi
22
tanpa
tanpa tersenyum
23
tentang
berbicara tentang moneter
24
untuk
buku untuk Tono

2.      Preposisi yang Berupa Kata Berafiks
Preposisi dalam kelompok ini dibentuk dengan menambahkan afiks pada bentuk dasar yang termasuk kelas kata verba, adjektiva, atau nomina. Afiksasi dalam pembentukan itu dapat berbentuk penambahan prefiks, sufiks, atau gabungan kedua-duanya. Berikut penjelasan contoh dari preposisi yang berupa kata berafiks.




a.      Contoh preposisi yang berupa kata berprefiks
Contoh preposisi yang berupa kata berprefiks dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Preposisi Berprefiks
Contoh Penggunaan Preposisi
1
bersama
pergi bersama kakak
2
beserta
ayah beserta ibu

3
menjelang
pergi menjelang malam
4
menuju
pergi menuju kota
5
menurut
menurut rencana
6
seantero
seantero dunia
7
sekeliling
sekeliling rumah
8
sekitar
sekitar kota
9
selama
selama libur akhir pecan
10
sepanjang
sepanjang masa
11
seputar
seputar Indonesia
12
seluruh
seluruh aturan
13
terhadap
terhadap ayah

b.   Contoh Preposisi yang Berupa Kata Bersufiks
Contoh preposisi yang berupa kata bersufiks dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Preposisi Bersufiks
Contoh Penggunaan Preposisi
1
bagaikan
cantik bagaikan bidadari

c.       Contoh preposisi yang Berupa Kata Berprefiks dan Bersufiks
Contoh preposisi yang berupa kata berprefiks dan bersufiks dapat dilihat pada tabel berikut.

No
Preposisi Berprefiks dan Bersufiks

Contoh Penggunaan Preposisi
1
melalui
dikirim melalui pos
2
mengenai
berceramah mengenai kenakalan remaja

b.      Preposisi Gabungan
Preposisi gabungan terdiri atas (1) dua preposisi yang berdampingan dan (2) dua preposisi yang berkorelasi. Berikut penjelasan dari kedua preposisi gabungan tersebut.
1.      Preposisi yang Berdampingan
Preposisi gabungan jenis pertama terdiri atas dua preposisi yang letaknya berurutan. Berikut adalah contoh tabel preposisi yang berdampingan.
No
Preposisi yang Berdampingan
Contoh Penggunaan Preposisi
1
daripada
Menara ini lebih tinggi daripada pohon itu.
2
kepada
Buku itu diberikan kepada adik.
3
oleh karena
Ia tidak masuk oleh karena penyakitnya.
4
oleh sebab
Tanaman itu mati oleh sebab kekeringan.
5
sampai ke
Kami berjalan sampai ke bukit.
6
sampai dengan
Nyoman menggarap soal nomor lima sampai dengan sepuluh.
7
selain dari
Selain dari kakaknya ia juga terpilih.

2. Preposisi yang Berkorelasi
Preposisi gabungan jenis kedua terdiri atas dua unsur yang dipakai berpasangan, tetapi terpisah oleh kata atau frasa lain. Berikut tabel contoh preposisi yang berkorelasi.

No
Preposisi yang Berkorelasi
Contoh Penggunaan Preposisi yang Berkorelasi
1
antara…dan…
Antara dia dan adiknya ada perbedaan yang mencolok.
2
dari…hingga…
Kami membanting tulang dari pagi hingga petang.
3
dari…sampai dengan…
Seminar itu diadakan dari hari Senin sampai dengan Kamis minggu depan.
4
dari…sampai ke…
Kami tidak tahu berapa jauhnya dari rumah kami sampai ke desa itu.
5
dari…ke…
Kami pindah dari Bandung ke Jakarta tahun lalu.
6
dari…sampai…
Dari lahir sampai berumur sepuluh tahun, ia ikut neneknya.
7
sejak…hingga…
Saya tidak bertemu dengan beliau lagi sejak rapat itu hingga kini
8
sejak…sampai…
Sejak menikah sampai dengan punya anak satu, kami tidak berumah sendiri.

3.      Preposisi dan Nomina Lokatif
Suatu preposisi juga dapat bergabung dengan dua nomina asalkan nomina yang pertama mempunyai ciri lokatif. Dengan demikian, kita temukan frasa preposisional, seperti di atas meja, ke dalam rumah, dan dari sekitar kampus. Struktur frasa preposisional ini adalah
FPrep
Prep                             FN
                        N1                   N2
di                     atas                  meja
ke                    dalam              rumah
dari                  sekitar              kampus
Dalam diagram di atas tampak bahwa atas, dalam, dan sekitar merupakan bagian dari frasa nominal atas meja, dalam rumah, dan sekitar kampus dan bukan frase gabungan di atas, ke dalam, dan dari sekitar. Sebagian dari kelompok N1 ataupun N2 wajib muncul dan ada pula yang manasuka. Kelompok N1 yang tidak wajib muncul adalah, misalnya atas dan dalam. Muncul atau tidaknya N1 itu dipengaruhi oleh ciri semantik N2 yang dimesinya berbeda-beda. Karena meja, misalnya, mempunyai dimensi dua (panjang dan lebar), maka di meja diartikan sama dengan di atas meja.
2.2.2 Peran Semantis Preposisi Menurut Alwi
Peran semantis preposisi yang lazim dalam bahasa Indonesia adalah sebagai penanda hubungan: (1) tempat, (2) peruntukan, (3) sebab, (4) kesertaan atau cara, (5) pelaku, (6) waktu, (7) ihwal (peristiwa), dan (8) milik.
a.      Fungsi Penanda hubungan tempat
Pada tabel berikut dijelaskan contoh preposisi penanda hubungan tempat.
No
Preposisi Penanda Hubungan Tempat
Contoh
1
di
Bapak bekerja di kantor.
2
ke
Ibu pergi ke pasar.
3
dari
Ayah mendapat informasi itu dari temannya.
4
hingga
Ayah bekerja hingga petang.
5
sampai
Ibu bekerja sampai malam.
6
antara
Aku harus memilih antara kuliah dan pekerjaan.
7
pada
Pada hari Minggu Sania pergi berlibur.

b.      Fungsi Penanda Hubungan Peruntukan
Pada tabel berikut dijelaskan preposisi penanda hubungan peruntukan.
No
Preposisi Penanda Hubungan Peruntukan
1
bagi
2
untuk
3
buat
4
guna

c.       Penanda Hubungan Sebab
Pada tabel berikut dijelaskan contoh preposisi sebagai penanda hubungan sebab.
Nomor
Contoh Preposisi Penanda Hubungan Sebab
1
karena
2
sebab
3
lantaran

d.      Penanda Hubungan Kesertaan atau Cara
Pada tabel berikut dijelaskan contoh fungsi preposisi sebagai hubungan kesertaan atau cara.
Nomor
Contoh Preposisi Penanda Hubungan Kesertaan atau Cara
1
dengan
2
sambil
3
beserta
4
bersama

e.       Penanda hubungan pelaku
Contoh preposisi yang mempunyai fungsi sebagai hubungan pelaku adalah oleh.



f.       Penanda Hubungan Waktu
Berikut tabel contoh preposisi yang mempunyai fungsi sebagai penanda hubungan waktu.
Nomor
Contoh Preposisi Penanda Hubungan Waktu
1
pada
2
hingga
3
sampai
4
sejak
5
semenjak
6
menjelang

g.      Penanda Hubungan Ihwal Peristiwa
Berikut contoh tabel preposisi yang berfungsi sebagai hubungan ihwal peristiwa.
Nomor
Contoh Preposisi Penanda Hubungan Ihwal Peristiwa
1
tentang
2
mengenai

h.      Penanda hubungan milik
Preposisi yang mempunyai fungsi sebagai penanda hubungan milik contohnya adalah: dari.
2.2. 3 Konjungtor
Konjungtor, yang juga dinamakan kata sambung, adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa (Alwi, 2003:296).
Menurut (Chaer, 2008: 98) konjungsi adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frase dengan frase, antara klausa dengan klausa, atau antara kalimat dengan kalimat.
Konjungtor adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (Kridalaksana, 2008: 102).
Dilihat dari perilaku sintaksisnya dalam kalimat, konjungtor dibagi menjadi empat kelompok: (1) konjungtor koordinatif, (2) konjungtor korelatif, (3) konjungtor subordinatif, dan (4) konjungtor antar kalimat, yang berfungsi pada tataran wacana.
a.      Konjungtor Koordinatif
Konjungtor yang menghubungkan dua unsur atau lebih yang sama pentingnya, atau memiliki status yang sama dinamakan konjungtor koordinatif. Perhatikan konjungtor koordinatif pada tabel berikut.
Konjungtor koordinatif
Fungsi
dan
penanda hubungan penambahan
serta
penanda hubungan pendampingan
atau
penanda hubungan pemilihan
tetapi
penanda hubungan perlawanan
melainkan
penanda hubungan perlawanan
padahal
penanda hubungan pertentangan
sedangkan
penanda hubungan pertentangan
Konjungtor koordinatif di samping menghubungkan klausa, juga dapat menghubungkan kata. Perhatikan contoh berikut.
1.      Dia menangis dan istrinya pun tersedu-sedu.
2.      Dia mencari saya dan adik saya.
3.      Aku yang datang kerumahmu atau kamu yang datang kerumahku?
4.      Saya atau kamu yang akan menjemput ibu?
5.      Dia terus saja berbicara, tetapi isterinya hanya terdiam saja.
6.      Sebenarnaya anak itu pandai, tetapi malas.
7.      Yang kita cari adalah hotel yang sederhana, tetapi bersih.
8.      Dia pura-pura tidak tahu, padahal tahu banyak.
9.      Ibu sedang masak, sedangkan Ayah membaca koran.

b.      Konjungtor Korelatif
Konjungtor korelatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua kata, frasa atau klausa yang memiliki status sintaksis yang sama. Konjungtor korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh satu kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan. Berikut adalah contoh tabelnya.
Contoh Konjungtor Korelatif
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
baik… maupun…
-    Baik pak Anwar maupun isterinya tidak suka merokok.
-    Baik Anda, istri anda, maupun mertua anda akan menerima cindera mata.
tidak hanya… tetapi juga…
Kita tidak hanya harus setuju, tetapi juga harus patuh.
bukan hanya… melainkan juga…
Bukan hanya balita yang memeriksakan kesehatan melainkan juga lansia.
demikian… sehingga…
Mobil itu larinya demikian cepatnya sehingga sangat sukar untuk dipotret.
sedemikian rupa… sehingga…
Kita harus mengerjakannya sedemikian rupasehingga hasilnya benar-benar baik.
apa(kah) … atau…
Apakah Anda setuju atau tidak, kami akan jalan terus.
entah… entah…
Entah disetujui entah tidak, dia akan tetap mengusulkan gagasannya.
jangankan……pun …
Jangankan orang lain, orang tuanya sendiri pun tidak dihormati.



c.       Konjungtor Subordinatif
Konjungtor subordinatif adalah konjungtor yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. Salah satu dari klausa itu merupakan anak kalimat. Konjungtor subordinatif dapat dibagi menjadi tiga belas kelompok. Berikut adalah tabel kelompok konjungtor subordinatif.
Kelompok Konjungtor Subordinatif
Contoh
konjungtor subordinatif  waktu
a.     sejak, semenjak,sedari
b.     sewaktu, ketika, tatkala, sementara, begitu, seraya, selagi, selama, serta, sambil, demi
c.     setelah, sesudah, sebelum, sehabis, selesai, seusai
d.    hingga, sampai
konjungtor subordinatif syarat
jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala
konjungtor subordinatif pengandaian
andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya
konjungtor subordinatif tujuan
agar, supaya, biar
konjungtor subordinatif konsesif
biarpun, meski(pun), walau(pun), sekalipun, sungguhpun, kendati(pun)
konjungtor subordinatif pembandingan
seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, ibarat, daripada, alih-alih
konjungtor subordinatif sebab
sebab, karena, oleh karena, oleh sebab
konjungtor subordinatif hasil
sehingga, sampai (-sampai), maka (nya)
konjungtor subordinatif alat
dengan, tanpa
konjungtor subordinatif cara
dengan, tanpa
konjungtor subordinatif komplementasi
bahwa
konjungtor subordinatif atributif
yang
konjungtor subordinatif perbandingan
sama … dengan, lebih …dari(pada)

Berikut adalah contoh kelompok masing-masing.
1.      Pak Buchori sudah meninggal ketika dokter datang.
2.      Saya akan naik haji jika tanah saya laku.
3.      Sya pasti akan memaafkannya seandainya dia mengakui kesalahannya.
4.      Narto harus belajar giat agar naik kelas.
5.      Pembangunan tetap berjalan terus meskipun dana makin menyempit.
6.      Dia takut kepada saya seolah-olah saya ini musuhnya.
7.      Hari ini dia tidak masuk kantor karena sakit.
8.      Ayah belum mengirim uang sehingga kami belum dapat membayar uang kuliah.
9.      Ali tidak mau membayar utangnya padahal dia memunyai uang.
10.  Orang yang mendatanginya bertampang seram, maka dia jadi takut.
11.  Mereka berkata bahwa mereka akan berkunjung besok.
12.  Dia memukul dengan tangan kirinya melayang terlebih dahulu.

d.      Konjungtor Antarkalimat
Konjungtor antarkalimat menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Oleh karena itu, konjungtor semacam itu selalu memulai suatu kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital (Alwi, 2003: 300). Berikut adalah tabel contoh konjungtor antarkalimat.
Contoh Konjungtor Antarkalimat
Fungsi
biarpun demikian/begitu, sekalipun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, meskipun demikian/begitu, sungguhpun demikian/begitu
menyatakan pertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya
kemudian, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya
menyatakan kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya
tambahan pula, lagi pula, selain itu
menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya
sebaliknya
mengacu ke kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya
sesungguhnya, bahwasanya
menyatakan keadaan yang sebenarnya
malah (an), bahkan
menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya
(akan) tetapi, namun
menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya
kecuali itu
menyatakan keeksklusifan dan keinklusifan
dengan demikian
menyatakan konsekuensi
oleh karena itu, oleh sebab itu
menyatakan akibat
sebelum itu
menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya
Berikut ini adalah contoh pemakaian beberapa konjungtor di atas.
1.      a. Kami tidak sependapat dengan dia. Kami tidak akan menghalanginya.
b.   Kami tidak sependapat dengan dia. Biarpun begitu, kami tidak akan menghalanginya.
2.   a. Mereka berbelanja ke Glodok. Mereka pergi ke saudaranya di Ancol.
      b. Mereka berbelanja ke Glodok. Sesudah itu, mereka pergi ke saudaranya di Ancol.
3.  a. Pak Darta terkena penyakit kencing manis. Dia juga mengidap tekanan darah tinggi.
b. Pak Darta terkena penyakit kencing manis. Selain itu, dia juga mengidap tekanan darah tinggi.
4. a. Penjahat itu tidak mengindahkan tembakan peringatan. Dia melawan polisi dengan belati.
b. Penjahat itu tidak mengindahkan tembakan peringatan. Sebaliknya, dia melawan polisi dengan belati.
5. a. Masalah yang dihadapinya memang gawat. Masalah ini sudah dia ramalkan sebelumnya.
b. Masalah yang dihadapinya memang gawat. Sesungguhnya, masalah ini sudah dia ramalkan sebelumnya.

6. a. Pak Amir sudah tahu tentang soal itu. Dia sudah mulai menanganinya.
b. Pak Amir sudah tahu tentang soal itu. Bahkan, dia sudah mulai menanganinya.
7. a. Keadaan memang sudah mulai aman. Kita harus tetap waspada.
b. Keadaan memang sudah mulai aman. Akan tetapi, kita harus tetap waspada.
Dari uraian mengenai pelbagai konjungtor di atas dapat kita tarik simpulan berikut.
1.      Konjungtor koordinatif menggabungkan kata atau klausa yang setara. Kalimat yang dibentuk dengan cara itu dinamakan kalimat majemuk setara.
2.      Konjungtor korelatif membentuk frasa atau kalimat. Unsur frasa yang dibentuk dengan konjungtor itu memiliki status sintaksis yang sama. Apabila konjungtor itu membentuk kalimat, maka kalimatnya agak rumit dan bervariasi wujudnya. Adakalanya terbentuk kalimat majemuk setara, ada pula yang bertingkat. Bahkan, dapat terbentuk pula kalimat yang memunyai dua subjek dengan satu predikat.
3.      Konjungtor subordinatif membentuk anak kalimat. Penggabungan anak kalimat itu dengan induk kalimatnya menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.
4.      Konjungtor antarkalimat merangkaikan dua kalimat, tetapi masing-masing merupakan kalimat sendiri.
2.2.4 Interjeksi
Interjeksi menurut (Chaer, 2008: 104) adalah kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin, misalnya, rasa kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya. Di lihat dari strukturnya ada dua macam interjeksi. Pertama, yang berupa kata-kata singkat seperti wah, cih, hai, oi, oh, nah, dan hah. Kedua, berupa kata-kata biasa, seperti aduh, celaka, gila, kasihan, bangsat, astaga, alhamdulilah, dan masya Allah (Chaer, 2008:104).
Menurut  (Kridalaksana, 2008: 120) interjeksi adalah kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara, dan secara sintaksis tidak berhubungan dengan kata-kata lain dalam ujaran.
Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara (Alwi, 2003: 303). Untuk memperkuat rasa hati seperti rasa kagum, sedih, heran, dan jijik, orang memakai kata tertentu di samping kalimat yang mengandung makna pokok yang dimaksud. Untuk menyatakan betapa cantiknya seorang teman yang memakai pakaian baru, misalnya, kita tidak hanya berkata,” Cantik sekali kau malamini”, tetapi kita awali dengan kata seru yang mengungkapkan perasaan kita. Dengan demikian, kalimat Aduh, cantik sekali kau malam ini tidak hanya menyatakan fakta, tetapi juga rasa hati pembicara. Di samping interjeksi yang asli, dalam bahasa Indonesia ada pula interjeksi yang berasal dari bahasa asing. Kedua-duanya biasanya dipakai di awal kalimat dan pada penulisannya diikuti oleh tanda koma.
Secara struktural interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain. Menurut bentuknya, ada yang berupa bentuk dasar nada yang berupa bentuk turunan. Berbagai jenis interjeksi dapat dikelompokkkan menurut perasaan yang diungkapkan pada tabel seperti berikut.
Jenis Interjeksi
Contoh Interjeksi
interjeksi kejijikan
bah, cih, cis, ih, idih
interjeksi kekesalan
brengsek, sialan, buset, keparat
interjeksi kekaguman atau kepuasan
aduhai, amboi, asyik
interjeksi kesyukuran
syukur, alhamdulilah
interjeksi harapan
insya Allah
interjeksi keheranan
aduh, aih, ai, lo, duilah, eh, oh, ah
interjeksi kekagetan
astaga, astagfirullah, masyaallah
interjeksi ajakan
ayo, mari
interjeksi panggilan
hai, he, eh, halo
interjeksi simpulan
Nah
Contoh penggunaan interjeksi adalah sebagai berikut.
a.       Bah, pergi kau dari rumah ini!
b.      Cih, tidak tahu malu mengemis belas kasihan orang!
c.       Cis, muak aku melihat rupamu itu!
d.      Ih, gigimu sudah ompong!
e.       Idih, kau suka mengada-ngada saja!
f.       Berengsek, sudah malas nuntut gaji tinggi pula!
g.      Aduhai, indahnya pemandangan ini!
h.      Syukur, anak kita dapat diterima di sekolah!
i.        Insya Allah, saya akan datang ke pesta perkawinanmu!
j.        Aduh, kalau begini bisa hancur kita!
k.      Astaga, alangkah mahalnya barang ini!
l.        Ayo, kita pergi sekarang!
m.    Hai, kapan kamu datang?
2.2.5 Artikula
Artikulus atau kata sandang adalah kata-kata yang berfungsi sebagai penentu atau mendefinitkan sesuatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikulus yang ada dalam bahasa Indonesia adalah si dan sang (Chaer, 2008: 104).
Artikula adalah kategori yang mendampingi nomina dasar (misalnya: si kancil, sang dewa, para pelajar), nomina deverbal (misalnya: si terdakwa, si tertuduh), pronominal (misalnya: si dia, sang aku), dan verba pasif (misalnya: kaum tertindas) (Putrayasa, 2010: 88).
Artikula menurut (Alwi, 2003: 304) adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Dalam bahasa Indonesia ada tiga kelompok artikula: (1) yang bersifat gelar, (2) yang mengacu ke makna kelompok, dan (3) yang menominalkan. Berikut penjelasan dari ketiga artikula tersebut.
a.      Artikula yang Bersifat Gelar
Artikula yang bersifat gelar pada umumnya bertalian dengan orang atau hal yang dianggap bermartabat. Berikut ini tabel jenis-jenisnya.
Jenis Artikula
Kegunaan
Sang
untuk manusia atau benda unik dengan maksud untuk meninggikan martabat; kadang-kadang juga dipakai dalam gurauan atau sindiran;
Sri
untuk manusia yang memiliki martabat tinggi dalam keagamaan atau kerajaan
hang
untuk laki-laki yang dihormati dan pemakaiannya terbatas pada nama tokoh dalam cerita sastra lama
dang
untuk wanita yang dihormati dan pemakaiannya terbatas pada nama tokoh dalam cerita sastra lama

Berikut ini adalah contoh pemakaian artikula di atas.
a.       Sang juara, Ellyas Pical, dapat merobohkan petinju Australia.
b.      Sang Merah Putih berkibar dengan jaya di seluruh tanah air.
c.       Sang suami mengapa tidak ikut?
d.      Karena pertanyaan siswa tadi rupanya sang guru menjadi marah.
e.       Baru-baru ini Sri Paus berkunjung ke Australia.
f.       Kedatang Sri baginda dan Sri ratu disambut dengan meriah.
g.      Segera Hang Tuah pergi merantau.
h.      Dang Merdu adalah tokoh terkenal dalam hikayat sastra melayu.

b.      Artikula yang Mengacu ke Makna Kelompok
Artikula yang mengacu ke makna kelompok atau kolektif adalah para. Karena artikula iu mengisyaratkan ketaktunggalan, maka nomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Jadi, untuk menyatakan kelompok guru sebagai kesatuan bentuk yang dipakai adalah para guru dan bukan para guru-guru (Alwi, 2003: 305).
Para dipakai untuk menegaskan makna kelompok bagi manusia yang memiliki kesamaan sifat tertentu, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan atau kedudukan. Dengan demikian, kita dapati bentuk seperti para guru, para petani, dan para ilmuwan. Akan tetapi, bentuk seperti para anak, para orang, dan para manusia tidak kita temukan dalam bahasa kita. Ada pula kata lain seperti kaum dan umat yang juga menyatakan kelompok, tetapi kedua kata itu termasuk nomina, bukan artikula. Dengan demikian, kita temukan klausa seperti Kita adalah umat/kaum yang beragama.
c. Artikula yang Menominalkan
Artikula si yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau generik, bergantung pada konteks kalimatnya. Frasa si miskin dalam kalimat Tak sampai hatiku melihat si miskin mengambil makanan dari tumpukan sampah itu mengacu ke satu orang yang kebetulan miskin. Akan tetapi, dalam kalimat Dalam masa krisis si miskinlah yang selalu menderita frasa si miskin mengacu ke pengertian generik, yakni kaum miskin di dunia.
Artikula si dipakai untuk mengiringi nama orang, membentuk nomina dari adjektiva atau verba, dan dalam bahasa yang tak formal untuk mengiringi pronomina dia (Alwi, 2003: 306). Berikut adalah contoh pemakaiannya.
a.       Si amat akan meminang si Halimah minggu depan.
b.      Aduh, cantiknya si hitam manis itu.
c.       Si terdakwa tidak dapat menjawab pertanyaan hakim.
d.      Mengapa si dia tidak kamu ajak datang?
Artikula si juga dipakai untuk menunjukkan perasaan negatif pembicara mengenai orang yang dirujuknya. Apabila orang tidak suka pada orang yang lain, misalnya Sutomo, maka kalimat Ini gara-gara si Sutomo dimaksudkan untuk menunjukkan rasa tidak suka pembicara terhadap Sutomo. Berikut adalah ikhtisar pemakaian artikula si:
1.      Di depan nama diri pada ragam akrab atau kurang hormat: si ali, si Tomi, si Badu;
2.      Di depan kata untuk mengkhususkan orang yang melakukan sesuatu atau terkena sesuatu: si pengirim, si alamat, si terdakwa;
3.      Di depan nomina untuk dipakai sebagai timangan, panggilan, atau ejekan; yang disebut itu mempunyai sifat atau mirip sesuatu: si belang, si bungsu, si kumis;
4.      Dalam bentuk verba yang menandakan dirinya menjadi bersifat tertentu: bersitegang, bersikukuh, bersimaharajalela, bersikeras, bersilengah;
5.      Pada berbagai nama tumbuhan dan binatang: siangit, sibusuk, sidingin, simalakama, siamang, sigasir, sikikih, sikudomba.
Ke dalam jenis artikula yang menominalkan dapat juga dimasukkan yang. Kata itu berfungsi ganda dalam sintaksis. Sebagai artikula, yang membentuk frasa nominal dari verba, adjektiva, atau kelas kata lain, yang bersifat takrif atau definit. Sifat yang sama akan muncul jika yang mengantarai nomina dengan pewatasnya. Di samping itu, kata yang menjadi pengantar klausa relative. Berikut ini beberapa contoh artikula yang.
a.       yang terhormat, yang berkepentingan, yang hadir
b.      yang buta, yang kaya, yang panjang
c.       yang laki-laki, yang perempuan
d.      yang pertama, yang kesepuluh
e.       yang ini, yang lain, yang mana

2.2.6        Partikel
Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk yang khusus, yaitu sangat ringkas dan kecil dengan mempunyai fungsi-fungsi tertentu (Putrayasa, 2010: 89).
Kategori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya.
Partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas:      -kah, -lah, -tah, dan pun (Alwi, 2003: 307). Tiga yang pertama merupakan klitika sedangkan yang keempat tidak. Berikut penjelasan dari keempat macam partikel tersebut.
a.      Partikel –kah
Partikel –kah yang berbentuk klitika dan bersifat manasuka dapat menegaskan kalimat interogatif. Berikut ini adalah kaidah pemakaiannya.
1.      Jika dipakai dalam kalimat deklaratif, -kah mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat deklaratif.
Contoh:
Diakah yang akan datang?
(Bandingkan: Dia akan datang.)
2.      Jika dalam kalimat interogatif sudah ada kata Tanya seperti apa, di mana, dan bagaimana, maka –kah seperti manasuka. Pemakaian –kah menjadikan kalimatnya lebih formal dan sedikit lebih halus.
Contoh:
Apa ayahmu sudah datang?
Apakah ayahmu sudah datang?
3.      Jika dalam kalimat tidak ada kata tanya tetapi intonasinya adalah intonasi interogatif, maka –kah akan memperjelas kalimat itu sebagai kalimat interogatif. Kadang-kadang urutan katanya dibalik.
Contoh:
Akan datang dia nanti malam?
Akan datangkah dia nanti malam?

b.      Partikel –lah
Partikel –lah yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam kalimat imperatif atau kalimat deklaratif. Berikut adalah kaidah pemakaiannya.
1.      Dalam kalimat imperatif, -lah dipakai untuk sedikit menghaluskan nada perintahnya. Contoh: Pergilah sekarang, sebelum hujan turun!
2.      Dalam kalimat deklaratif, -lah dipakai untuk memberikan ketegasan yang sedikit keras. Contoh: Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah.

c.       Partikel –tah
Partikel –tah, yang juga berbentuk klitika, dipakai dalam kalimat interogatif, tetapi si penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya bertanya pada diri sendiri karena kehenaran atau kesangsiannya. Partikel –tah banyak dipakai dalam sastra lama, tetapi tidak banyak dipakai lagi sekarang. Contoh pemakaiannya adalah sebagai berikut.
Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?
Siapatah gerangan orangnya yang mau menolongku.

d.      Partikel pun 

Partikel pun dipakai dalam kalimat deklaratif dan dalam bentuk tulisan dipisahkan dari kata di mukanya. Kaidah pemakaiannya adalah sebagai beikut.
1.      Pun dipakai untuk mengeraskan arti kata yang diiringinya.
Contoh:
Mereka pun akhirnya setuju dengan usul kami.
Dari pemakaian partikel pun pada contoh di atas tampak bahwa partikel itu cenderung dilekatkan pada subjek kalimat.
Perlu diperhatikan bahwa partikel pun pada konjungtor ditulis serangkai; jadi, ejaannya walaupun, meskipun, kendatipun, adapun, sekalipun, biarpun, dan sungguhpun. Bedakan ejaan ini dengan ejaan-ejaan berikut, mereka pun, makan pun, itu pun, ini pun yang partikel pun-nya dipisahkan.
2.      Dengan arti yang sama seperti di atas, pun sering pula dipakai bersama
–lah untuk menandakan perbuatan atau proses mulai berlaku atau terjadi
Contoh:
Tidak lama kemudian hujan pun turunlah dengan derasnya
Para demonstran itu pun berbarislah dengan teratur.
Para anggota yang menolak pun mulailah berfikir-fikir lagi. 







Bab 3 SIMPULAN
3.1 SIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat diambil simpulan sebagai berikut.
Kata tugas hanya memunyai arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, melainkan oleh kaitannya dengan kata lain dalam frase atau kalimat. Jika pada nomina seperti buku kita dapat memberikan arti berdasarkan kodrat kata itu sendiri-benda yang terdiri atas kumpulan kertas yang bertulisan-, untuk kata tugas kita tidak dapat berbuat yang sama. Kata tugas seperti danatau ke baru akan memunyai arti apabila dirangkai dengan kata lain untuk menjadi, misalnya, ayah dan ibu dan ke pasar (Alwi, 2003: 287).
Ciri lain dari kata tugas adalah bahwa hampir semuanya tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Jika verba datang kita dapat menurunkan kata lain seperti mendatangi, mendatangkan, dan kedatangan, tidak demikian halnya dengan kata tugas seperti dan dan dari. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab dan sampai, tetapi dari nomina sebab dan verba sampai yang bentuknya sama, tetapi kategorinya berbeda (Alwi, 2003: 287).
Berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok, yaitu (1) preposisi, (2) konjungtor, (3) interjeksi, (4) artikula, dan (5) partikel penegas (Alwi, 2003: 288)
Preposisi atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa (Chaer, 2008: 96). Misalnya kata didan dengan dalam kalimat.
Konjungtor adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (Kridalaksana, 2008: 102).
Interjeksi menurut (Chaer, 2008: 104) adalah kata-kata yang mengungkapkan perasaan batin, misalnya, rasa kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya. Di lihat dari strukturnya ada dua macam interjeksi. Pertama, yang berupa kata-kata singkat seperti wah, cih, hai, oi, oh, nah, dan hah. Kedua, berupa kata-kata biasa, seperti aduh, celaka, gila, kasihan, bangsat, astaga, alhamdulilah, dan masya Allah (Chaer, 2008: 104).
Artikula adalah kategori yang mendampingi nomina dasar (misalnya: si kancil, sang dewa, para pelajar), nomina deverbal (misalnya: si terdakwa, si tertuduh), pronominal (misalnya: si dia, sang aku), dan verba pasif (misalnya: kaum tertindas) (Putrayasa, 2010: 88).
Kategori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk yang khusus, yaitu sangat ringkas dan kecil dengan mempunyai fungsi-fungsi tertentu (Putrayasa, 2010: 89).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI CORONA

CORONA Karya Asep Perdiansyah Corona datang menyerang Dunia menjadi tak tenang Tempat keramaian seketika menghilang Matahari b...