Senin, 05 Februari 2018

BATASAN PROSES MORFOLOGIS ATAU MORFEMIS, JENIS PROSES MORFOLOGIS, PARADIGMA, FLEKSI, DAN DERIVASI














BATASAN PROSES MORFOLOGIS ATAU MORFEMIS,
JENIS PROSES MORFOLOGIS,
PARADIGMA, FLEKSI, DAN DERIVASI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang  
Secara etimologi kata morfologi  berasal dari kata morf  yang berarti bentuk dan kata  logi  yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah kata morfologi  berarti  ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti  ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata; sedangkan di dalam kajian biologi morfologi berarti ‘ilmu mengenai bentuk-bentuk sel-sel tumbuhan atau jasad-jasad hidup’. selain bidang  kajian linguistik, di dalam kajian biologi ada juga digunakan istilah morfologi. Kesamaannya, sama-sama mengkaji tentang bentuk.
Morfologi membicarakan masalah bentuk-bentuk dan pembentukan kata, maka semua satuan bentuk sebelum menjadi kata, yakni morfem dengan segala bentuk dan jenisnya perlu dibicarakan. Lalu, pembicaraan mengenai pembentukan kata akan melibatkan pembicaraan mengenai komponen atau unsure pembentukan kata itu, yaitu morfem, baik morfem dasar maupun morfem afiks, dengan berbagai alat proses pembentukan kata itu, yaitu afiks dalam proses afiksasi, duplikasi ataupun pengulangan dalam proses pembentukan kata melalui proses reduplikasi, penggabungan dalam proses pembentukan kata melalui komposisi, dan sebagainya. Jadi, ujung dari proses morfologi adalah terbentuknya kata dalam bentuk dan makna sesuai keperluan dalam satu tindak pertuturan.
Bila bentuk dan makna yang terbentuk dari satu proses morfologi sesuai dengan yang diperlukan dalam pertuturan, maka bentuknya dapat dikatakan berterima, tetapi jika tidak sesuai dengan yang diperlukan, maka bentuk itu dikatakan tidak berterima.


Keberterimaan atau ketidakberterimaan bentuk itu dapat juga karena alasan sosial. Namun, disini, dalam kajian morfologi, alasan sosial itu kita singkirkan dulu, yang kita perhatikan atau pedulikan adalah alasan gramatikal semata.
Berdasarkan penelitian morfologis, ada berbagai kemungkinan untuk menggolongkan konstruksi-konstruksi morfem, misalnya menurut penafsiran dan jenis-jenisnya, namun yang paling masuk akal adalah penggolongan menurut morfem dasar yang sama. Sebagai contoh kontruksi morfenemis yang mungkin dikembangkan dari morfem pradasar yaitu kata ajar menjadi mengajar, belajar, pelajaran, dan seterusnya. Demikian pula kontruksi dengan bentuk polimorfemis sebagai dasar, misalnya dengan kata pelajaran sebagai dasar ada kata pelajaranku, pelajaranmu, dan pelajarannya
Para ahli linguistik berpendapat bahwa dua golongan bawahan yang terpenting dalam paradigma morfemis adalah golongan yang berdasarkan infleksi dan berdasarkan derivasi. Golongan infleksi adalah daftar paradigmatis yang terdiri atas bentuk-bentuk kata yang sama, sedangkan golongan derivasi adalah daftar yang terdiri atas bentuk-bentuk kata yang tidak sama, misalnya bentuk kata mengajar dan diajar adalah dua bentuk kata aktif dan pasif dari kata yang sama yaitu mengajar, sedangkan mengajar dan pengajar merupakan dua kata yang berbeda yaitu kata verba dan nomina.
1.2  Rumusan Masalah
1)      Apakah pengertian dari morfologi?
2)      Apa saja batasan proses morfologis/morfemis?
3)      Bagaimanakah jenis morfologis, paradigma, fleksi, dan derivasi?
4)      Bagaimanakah proses morfologis, paradigma, fleksi, dan derivasi?

1.3  Tujuan               
1)      Mengetahuipengertian dari morfologi.
2)      Mengetahui batasan proses morfologis/morfemis.
3)      Mengetahui jenis morfologis, paradigma, fleksi, dan derivasi.
4)      Mengetahui proses morfologis, paradigma, fleksi, dan derivasi.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Morfologi
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasarbahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik(Ramlan, 1987: 19).
Kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Morfologi juga mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik, yang biasa disebut arti gramatikal atau makna. Satuan yang paling kecil dipelajari oleh morfologi adalah morfem, sedangkan yang paling besar berupa kata. morfologi hanya Mempelajari peristiwa-peristiwa yang umum, peristiwa yang berturut-turut terjadi, yang bisa dikatakan merupakan sistem dalam bahasa.
Peristiwa perubahan bentuk misalnya pada perubahan kata dari jala menjadi jalan pada kata berjalan, dan perubahan dari kata aku menjadi saya, serta perubahan kata dari tahun menjadi tuhan boleh dikatakan hanya terjadi pada kata tersebut.





Oleh karena itu, peristiwa tersebut tidak bisa disebut sebagai peristiwa umum, tentu saja bukan termasuk dalam bidang morfologi, melainkan termasuk dalam ilmu yang biasa disebut etimologi, yaitu ilmu yang mempelajari seluk-beluk asal sesuatu kata secara khusus.

Morfologi merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari peristiwa-peristiwa tentang bentuk, fungsi, dan arti kata. Jadi, bidang morfologi dalam suatu bahasa menguraikan tentang struktur kata dan bagian-bagiannya. Seperti fonologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai bunyi, maka cabang yang namanya morfologi mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal.
Morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata atau morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik (Ramlan dalam Tarigan, 2007: 4).
Sebagai contoh kata berhak, secara fonologis kata tersebut terdiri atas enam fonem dan secara morfologis terdiri atas dua satuan minimal yaitu ber-dan hak, satuan minimal gramatikal itu dinamai morfem.Disamping kata sepeda terdapat kata bersepeda, sepeda-sepeda, sepeda motor; disamping kata rumah ada kata berumah, perumahan, rumah-rumah, rumah-rumahan, rumah sakit; dan sebagainya. Kata bersepeda terdiri dari dua morfem ialah morfem ber- sebagai afiks dan morfem sepeda sebagai bentuk dasarnya. Demikian pula kata rumah-rumah dan jalan-jalan terdiri dari dua morfem ialah morfem rumah dan jalan diikuti morfem ulang. Kata sepeda termasuk golongan kata nomina sedangkan bersepeda termasuk golongan verba.







2.2 Batasan Proses Morfologis/Morfemis
Proses morfologis ialah proses pembentukan kata-kata dari bentuk lain yang merupakan dasarnya. Bentuk dasarnya itu mungkin berupa kata, seperti pada kata terjauh yang dibentuk dari kata jauh, kata menggergaji yang dibentuk dari kata gergaji, rumah-rumah yang dibentuk dari kata rumah, kata berjalan-jalan yang dibentuk dari kata berjalan; mungkin berupa pokok kata, misalnya bertemu yang dibentuk dari kata temu, kata bersandar yang dibentuk dari kata sandar, kata mengalir yang dibentuk dari kata alir; mungkin berupa frase, misalnya kata ketidakadilan yang dibentuk dari frase tidak adil, ketidakmampuan yang dibentuk dari frase tidak mampu; mungkin berupa kata dan kata, misalnya kata rumah sakit dibentuk dari kata rumah dan kata sakit, meja makan yang dibentuk dari kata meja dan kata makan, kepala batu yang dibentuk dari kata kepala dan kata batu; mungkin berupa kata dan pokok kata, misalnya pasukan tempur yang dibentuk dari kata pasukan dan pokok kata tempur, kolam renang yang dibentuk dari kata kolam dan pokok kata renang; dan mungkin pula dari pokok kata dan pokok kata, misalnya kata lomba tari yang dibentuk dari pokok kata lomba dan pokok kata tari, kata jual beli yang dibentuk dari pokok kata jual dan pokok kata beli (Ramlan, 1965: 27).
Pada terjauh, kata jauh mendapat bubuhan ter-, pada menggergaji, kata gergaji mendapat bubuhan meN-, pada bertemu, pokok kata temu mendapat bubuhan ber-, pada bersandar, pokok kata sandar mendapat bubuhan ber-, pada mengalir, pokok kata alir mendapat bubuhan men-, pada kata ketidakadilan, frase tidak adil mendapat bubuhan ke-an, pada ketidakmampuan, frase tidak mampu mendapat bubuhan ke-an, pross pembentukan kata dengan membubuhkan bubuhan yang disebut afiks itu disebut proses pembubuhan afiks atau afiksasi, dan kata yang dibentuk dengan proses ini disebut kata berafiks (Ramlan, 1965: 28).





Proses morfologi pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan (dalam proses redukpilaksi), penggabungan (dalam proses komposisi), pemendekan (dalam proses akronimisasi) dan pengubahan status (dalam proses konversi). Prosedur ini berbeda dengan analisis morfologi yang mencerai-ceraikan kata (sebagai satuan sintaksis) menjadi bagian bagian atau satuan satuan yang lebih kecil. Jadi, kalau dalam analisis morfologi seperti menggunakan teknik Immediate Constituen Analysis (IC analysis), terhadap kata berpakaian, misalnya mula-mula kata berpakaian dianalisi menjadi bentuk ber- dan pakaian;lalu bentuk pakaian dianalisis menjadi bentuk pakai dan –an. Maka dalam proses morfologi prosedurnya di balik: mula mula pakai diberi sufiks -an menjadi pakaian(Abdul Chaer, 2002: 25).
Proses morfemis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Bentuk dasarnya itu berupa kata seperti pada kata terjauh yang dibentuk dari kata jauh. Pada terjauh, kata jauh mendapat bubuhan ter-, pada menggergaji kata gergaji mendapat bubuhan meN-, pada bertemu pokok kata kata temu mendapat bubuhan ber-, pada kata berjalan-jalan kata berjalan menjadi bentuk dasarnya bukannya mendapat bubuhan seperti halnya kata terjauh, melainkan diulang. Pada kata rumah sakit, kata rumah dan kata sakit yang merupakan bentuk dasarnya digabungkan hingga kedua kata tersebut menjadi satu kata. Proses pembentukan kata ini disebut proses pemajemukan dan kata yang dibentuk dengan proses ini disebut kata majemuk.
Proses morfemis merupakan proses pembentukan kata bermorfem jamak baik derivatif maupun inflektif. Proses ini disebut morfemis karena proses ini bermakna dan berfungsi sebagai pelengkap makna leksikal yang dimiliki oleh sebuah bentuk dasar. Disamping sebutan proses morfemis ini juga disebut proses morfologis.





2.2.1 Komponen Proses Morfologi/Morfemis
Proses morfologi melibatkan komponen (1) bentiuk dasar, (2) alat pembentuk (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi), (3) makna gramatikal, dan (4) hasil proses pembentukan (Abdul Chaer, 2002: 25).
1.    Bentuk Dasar
Bentuk dasar adalah bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi itu. Bentuk dasar itu dapat berupa akar seperti baca, pahat, dan juang pada kata membaca, memahat, dan berjuang. Proses reduplikasi bentuk dasar dapat berupa akar, seperti akar rumah pada kata rumah-rumah, akar tinggi pada kata tinggi-tinggi dan akar marah pada marah-marah. Proses komposisi dapat berupa akar sate pada kata sate ayam, sate padang, sate lontong; dapat berupa dua buah akar seperti akar kampong dan halaman pada kata kampung halaman, atau akar tua dan akar muda pada kata tua muda (Abdul Chaer, 2002: 25-26). 
Morfem yang dileburi morfem yang lain kita sebut morfem dasar dan yang dileburkan itu berupa imbuhan. Morfem dasar ada tiga macam: pangkal, akar, dan pradasar. Dasar dan akar dibedakan secara umum dalam linguistik, dan pradasar ditambahkan dalam buku ini (J.W.M. Verhaar, 1999:99).
Morfem pangkal adalah morfem dasar yang bebas contohnya hak dalam berhak. Morfem akar adalah morfem dasar yang berbentuk terikat agar menjadi bentuk bebas, akan harus mengalami pengimbuhan. Misalnya infinitif verbal latin  amare ‘mencintai’ memiliki akar am- dan akar am- itu selamanya membutuhkan imbuhan misalnya imbuhan infinitif aktif –are dalam kata amare. Bentuk pradasar adalah bentuk yang membutuhkan pengimbuhan atau pengklitikan atau pemajemukan untuk menjadi bentu bebas. Misalnya morfem ajar berupa pradasar, morfem tersebut dapat menjadi bebas melalui pengimbuhan misalnya mengajar, belajar, dan sebagainya, dapat juga melalui pengklitikan misalnya kami ajar, saya ajar, dan dapat juga dengan pemajemukan misalnya kurangajar.Bahasa indonesia tidak mempunyai akar tetapi morfem pradasar ada beberapa ratus, sedangkan bentuk pradasar dalam bahasa jawa ada beribu-ribu.



Menurut kajian tradisional dan struktural bentuk dasar kata itu adalah sama, yaitu akar ajar. Kajian proses di sini bentuk dasar kedua kata itu tidaklah sama. Bentuk dasar kata pelajar adalah belajar adala belajar sedangkan bentuk dasar pengajar adalah mengajar. Makna gramatikal kata belajar adalah ‘orang yang belajar’ sedangkan makna gramatikal pengajar adalah ‘orang yang mengajar’. Contoh lain bentuk dasar kata penyatuan adalah menyatukan karena makna penyatuan adalah ‘hal atau poses menyatukan’ (Abdul Chaer, 2002: 26).
2.Pembentukan Kata
Komponen kedua dalam proses morfologi adalah alat pembentuk kata. Sejauh ini alat pembentuk dalam proses morfologi adalah (a) afiks dalam afiksasi, (b) pengulangan dalam proses redupliksi (c) penggabungan dalam proses komposisi (d) pemendekakan atau penyingkatan dalam proses akronimisasi, dan (e) pengubahan status dalam proses konversi(Abdul Chaer, 2002: 27).
Pada proses afiksasi sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi sebuah kata. Umpamanya pada dasar baca diimbuhkan afiks me-sehingga menghasilkan kata membaca yaitu sebuah verba transitif aktif; pada dasar juang diimbuhkan afiks ber- sehingga menghasilkan verba intransitif berjuang(Abdul Chaer, 2002: 27).
Alat pembentukan kedua adalah pengulangan bentuk dasar yang digunakan dalam proses reduplikasi. Reduplikasi menurut (Ramlan, 1987: 62) dibedakan menjadi empat golongan yaitu:
a.    Redupliasi seluruh: reduplikasi seluruh morfem dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, misalnya: sepeda-sepeda.
b.    Redupliasi sebagian ialah reduplikasi sebagian dari morfem dasarnya, misalnya pertama menjadi pertama-tama.
c.    Reduplikasi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks ialah reduplikasi yang terjadi bersama-sama pula mendukung satu fungsi, misalnya anak menjadi anak-anakan, hitam menjadi hitam-kehitaman.
d.   Reduplikasi dengan perubahan fonem, misalnya gerak menjadi gerak-gerik, serba menjadi serba-serbi.

Alat pembentuk ketiga adalah penggabungan sebuah bentuk pada bentuk dasar yang ada dalam proses komposisi. Penggabungan ini juga merupakan alat yang banyak digunakan dalam pembentukan kata karena banyaknya konsep yang belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata. misalnya, bahasa Indonesia hanya punya sebuah kata untuk berbagai macam warna merah. Oleh karena itulah di bentuk gabungan kata seperti merah jambu, merahdarah, merah bata.
Alat pembentuk keempat adalah apreviasi khusu yang digunakan dalam proses akronimisasi. Disebut abreviasi dari bentuk sekolah menengah atas menjadi SMA adalah bukan akronim hasil abreviasi dari Jakarta Bogor Ciawi menjadi Jagorawi adalah akronim. Alat kelima dalam pembentukan kata adalah pengubahan status dalam proses yang disebut konversi. Misalnya, bentuk gunting yang berstatus nomina dalam kalimat gunting ini terbuat dari baja, dapat diubah statusnya menjadi bentuk gunting yang berstatus verba seperti dalam kalimat gunting dulu baik-baik, baru dilem. (Abdul Chaer, 2002: 27-28).

3.Makna Gramatikal
Makna Gramatikal mempunyai hubungan erat dengan komponen makna grmatikal mempunyai hubungan erat dengan komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses pembentukan kata. Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi akan menampakkan makna/bentuk dasarnya, seperti kita lihat berdasi makna gramatikalnya memakai dasi.; berdiskusi makna gramatikalnya melakukan diskusi (Abdul Chaer, 2008: 29).
Makna leksikal dan makna gramatikal ini akan tersisih oleh makna kontekstual atau pemakaian kata itu di dalam konteks kalimat mapun konteks situasi. Banyak orang menyatakan makna kata baru jelas bila kata itu telah digunakan. Misalnya, prefiksasi me- pada kata ambil menjadi mengambil memunculkan makna gramatikal melakukan ambil. Dalam kalimat “Perusahaan kami akan mengambil 10 pegawai baru” kata mengambil memiliki makna kontekstual menerima.




4. Hasil Proses Pembentukan
Proses morfologi atau proses pembentukan kata mempunyai dua hasil yaitu bentuk dan makna gramatikal, yang merupakan dua hal yang berkaitan erat; bentuk merupakan wujud fisiknya dan makna gramatikal merupakan isi dari wujud fisik atau bentuk itu (Abdul Chaer, 2002: 28).
Wujud fisik dari hasil proses afiksasi adalah kata berafiks, disebut juga kata berimbuhan, kata turunan, atau kata terbitan. Wujud fisik dari proses reduplikasi adalah kata ulang atau disebut juga bentuk ulang. Wujud fisik dari proses komposisi adalah kata gabung, disebut juga gabungan kata, kelompok kata atau kata mejemuk (tentang istilah kata mejemuk banyak menimbulkan persoalan) (Abdul Chaer, 2002: 28-29).
2.2.2        Jenis Proses Morfologis/Morfemis
(Parera, 1988: 18) menjelaskan terdapat jenis proses morfemis yaitu
1.      Proses morfemis afiksasi
2.      Proses morfemis pergantian atau perubahan internal
3.      Proses morfemis pengulangan
4.      Proses morfemis zero
5.      Proses morfemis suplesi
6.      Proses morfemis suprasegmental
1.        Proses Afiksasi
Proses afiksasi terjadi apabila sebuah morfem terikat dibubuhkan atau dilekatkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus. Berdasarkan posisi morfem terikat terhadap morfem bebas tersebut. Berdasarkan posisi morfem terikat terhadap morfem bebas tersebut, proses afiksasi dapat dibedakan atas: pembubuhan depan, pembubuhan tengah, pembubuhan akhir, dan pembubuhan terbagi.



Afiks adalah morfem terikat yang apabila ditambahkan atau dilekatkan pada morfem dasar akan mengubah makna gramatikal morfem dasar (Kridalaksana, 2001: 3). Berdasarkan letaknya dalam kata, afiks dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu :
a)    Prefiks (prefix) adalah afiks yang diletakkan di awal morfem dasar, misalnya ber-, me-, di-, ter-, se-, dan sebagainya;
Prefiks yang diimbuhkan di sebelah kiri dasar dalam proses yang disebut prefiksasi.
Afiks yang ditempatkan di bagian muka suatu kata dasar atau disebut prefiks (awalan). Bentuk atau morfem terikat seperti ber-, meng, peng, dan per (Hasan Alwi, 2003:31);
b)   Infiks (infix) adalah afiks yang ditempatkan di tengah morfem dasar, misalnya -in-, -em-, dan sebagainya;
Infiks yang diimbuhkan dengan penyisipan di dalam dasar itu, dalam proses yang namanya infiksasi. Afiksasi yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuk seperti –er- dan –el- pada gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan (Hasan Alwi, 2003:31);
c)    Interfiks (interfix) adalah afiks yang muncul di antara dua morfem dasar, misalnya -o- dalam jawanologi, galvologi, dan tipologi;
d)   Sufiks (suffix) adalah afiks yang diletakkan di akhir morfem dasar, misalnya -s, -al, -an, dan sebagainya;
Sufiks yang diimbuhkan di sebelah kanan dasar dalam proses yang disebut sufiksasi. Afiksasi yang ditempatkan di belakang kata (akhiran). Morfem terikat seperti –an, -kan, dan –i(Hasan Alwi, 2003:31).
e)    Konfiks (confix) atau sirkumfiks (circumfix) adalah gabungan dua afiks yang sebagian diletakkan di awal dan sebagian yang lain di akhir, (1)menggaruk (ng = alomorf); menjual (morf) (2) Garuk (morfem); menjual (n = alomorf); melarang /moelaraN/). Dari pemakaian morfem {meN-} itu dapat diketahui bahwa morfem bersifat abstrak.




f)    Transfiks (transfix) adalah afiks terbagi yang muncul tersebar di dalam morfem dasar, misalnya dalam bahasa Arab, a-a-a, a-i-a, a-u- a ‘persona ketiga, jantan, perfektum’ muncul dalam morfem dasar k-t-b, sy-r-b, h-s-n menjadi kataba ia menulis’, syariba ‘ia minum’, hasuna ‘ia bagus’ (Kridalaksana, 2001: 218; Bauer, 1988: 24).
2.    Proses pergantian
Sebuah morfem dasar bebas dapat mengalami perubahan dalam tubuhnya sendiri dengan adanya pergantian salah satu unsur fonemnya baik konsonan, vokal, maupun ciri-ciri suprasegmental (nada, ubahan atau fungsi, makna, dan atau kelas kata bentuk dasar.
Jika kita mencatat bentuk pemuda dan pemudi dalam bahasa Indonesia, maka akan tampak pergantian dalam bentuk itu sendiri. Pergantian /a/ dengan /i/ dan pergantian ini membawa perubahan makna laki-laki/wanita.
3.    Proses Duplikasi/Ulangan
Proses ini kurang mendapatkan perhatian, Bloomfield mencatat proses ini di dalam bahasa Tagalog di filipina. Bagi Linguis-linguis Indonesia proses ini tidak asing lagi. Oleh karena itu proses ini memerlukan beberapa pembicaraan khusus pada bab tersendiri.
4.    Proses Kosong
Golongan morfem-morfem ini tidak mengalami proses morfem. Kita ambil contoh dalam bahasa Inggris, untuk menyatakan jamak atau pengertian yang lain ada bentuk-bentuk dalam bahasa inggris yang tidak mengalami proses sama sekali seperti:
Book – books
Dog   -- dogs
5.        Proses Suplesi
Proses suplesi dapat dipandang sebagai satu proses perubahan internalyang ekstrem.  Dalam proses ini ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak. Dengan kata lain bentuk-bentuk dasar mengalami perubahan total, misalnya bentuk went dalam bahasa Inggris merupakan perubahan be, am, is, are, was, were.

6.        Proses Morfemis Suprasegmental
Untuk beberapa bahasa tertentu ciri-ciri prosodi atau suprasegmental bersifat morfemis. Bahasa Inggris misalnya mengenal proses morfemis tekanan. Dalam bahasa Indonesia ciri suprasegmental sendi dan nada bersifat morfemis. Misalnya, bapak wartawan: bapak//wartawan; ibu guru: ibu//guru.

2.3      Jenis dan Proses Paradigma, fleksi, dan derivasi
Para ahlilinguistik memakai istilah “paradigma” unuk golongan konstruksi morfemis dengan dasar yang sama. “anggota-anggota” daftar “paradigma” itu juga disebut “alternan-alternan”dari paradigma (“alternan” berarti bentuk “alternatif”, atau “bentuk lain”(Verhaar, 1999: 117). ). Para ahli linguistik memakai istilah paradigma untuk golongan kontruksi morfemis dengan dasar yang sama. Anggota-anggota daftar paradigma itu juga disebut alternan-alternan dari paradigma karena daftar paradigmatis dapat merangkup banyak sekali konstruksi.
Para ahli linguistik berkonsensus bahwa dua golongan bawahan yang terpeting dalam paradigma morfemis adalah golongan yang berdasarkan “fleksi” dan golongan yang berdasarkan “derivasi”. Golongan “fleksi” atau infleksional adalah daftar paradigmatis yang terdiri atas bentuk-bentuk dari kata yang sama, sedangkan golongan derivasi adalah daftar yang terdiri atas  bentuk-bentuk kata yang tidak sama.Misalnya saja, bentuk mengajar dan diajar adalah dua bentuk (“aktif” dan “pasif”) dari kata yang sama, yaitu mengajar, sedangkan mengajar dan pengajar merupakan dua kata yang berbeda (verba dan nomina) (Verhaar, 1999: 118).
a.    Fleksi
Fleksi  adalah proses morfemis yang ditetapkan pada kata sebagai unsur leksikal yang sama” (Verhaar, 1999:121). Sebuah kata yang sama hanya bentuknya yang berbeda yang disesuaikan dengan katagori gramatikalnya. Bentuk-bentuk tersebut dalam morfologi infleksional disebut paradigma infleksional” (Chaer, 2007:171).



Hal ini dapat disimpulkan bahwa infleksi adalah perubahan bentuk kata tanpa mengubah identitas leksikal kata itu dengan atau tanpa mengubah kelas katanya. Secara khusus perubahan bentuk sebuah kata kerja dengan tetap mempertahankan identitas kata kerja itu sama saja artinya dengan mengubah bentuk kata itu, tapi makna kata seperti yang terkandung dalam kata itu tidak berubah.
Pengertian infleksi berhubungan dengan kata bermorfem jamak. Jika sebuah proses morfologis menimbulkan satu perubahan bentuk atau kata  bermorfem jamak dan bentuk-bentuk tersebut ini secara sintaksis tidak mempunyai ekuivalen dalam distribusi sintaksis dengan sebuah kata bermorfem tunggal, maka bentuk ini disebut bentuk infleksi (Parera, 1988: 22).Distribusi infleksi lebih luas daripada derivasi. (Parera, 1988: 22) memberikan bentuk-bentuk infleksi yang biasanya memberikan/menyatakan beberapa kategori ketatabahasaan seperti: tunggal dan jamak, jenis kelamin (pria/wanita), aspek dan waktu, bentuk aktif dan pasif, tata tingkat sifat (biasa, lebih, sangat/amat), dan beberapa kategori yang mungkin terjadi sesuai dengan kekhasan bahasa tertentu masing-masing.
Bentuk dasar
Infleksi
Kelas kata
Kategori
Pemuda
Pemudi
Benda
Jenis kelamin
Wartawan
Wartawati
Benda
Jenis kelamin
Melihat
Melihat-lihat
Kerja
Aspek
Menghormati
Dihormati
Kerja
aktif/pasif)
Kecil
Kecilan
Sifat
Tata tingkat (bandingan)
Cepat
Cepat-cepat
sifat
Tata tingkat (bandingan)








b.   Derivasi
Derivasi adalah proses morfemis yang mengubah kata sebagai unsur leksikal tertentu menjadi unsur leksikal yang lain (Verhaar, 1999:121) .Selain itu derivasi merupakan pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya (Chaer, 2007:175) .
Derivasi itu konstruksi yang berbeda distribusinya daripada dasarnya atau afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar. Misalnya kata reviews dapat dianalisis atas sebuah prefiks re-, sebuah akar view, dan sebuah sufiks -s. Prefiks re- membentuk leksem baru review dari bentuk dasar view, sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem review. Jadi, prefiks re- bersifat derivasi, sedangkan sufiks -s bersifat infleksi.
Jika kita berbicara mengenai derivasi, berati kita berbicara tentang salah satu aspek yang lain dari hubungan antara morfem dan kata. Pada dasarnya morfem-morfem terikat berfungsi membentuk kata. Salah satu akibat dari fungsi pembentukan ini adalah sebuah kata bermorfem jamak yang disebut derivasi (Parera, 1988: 21).
Morfem-morfem terikat dapat kita kelompokkan pada morfem-morfem terikat pembentukan kata-kata derivatif. Sebagi contoh kami berikan beberapa morfem terikat pembentuk kata derivatif dalam bahasa Indonesia:
morfem terikat derivasi
benda
kerja
sifat
dasar
derivasi
Dasar
derivasi
dasar
derivasi
Pe-
-
pemuda
-
-
muda
-

-
penjilat
Jilat
-
-
-
Ke-an
-
kebaikan
-
-
baik
-
-kan
-
-
-
muliakan
mulia
-
-wi
manusiawi
-
-
-
-
manusiawi
-an
karangan
-
karang
-
-
-
Me-kan
-
-
-
Men-amankan
Aman
-

Kata-kata bermorfem jamak dalam contoh di atas- pemuda, penjilat, kebaikan, karangan, muliakan, dan mengamankan adalah kata-kata derivatif. Secara sintaksis kata-kata ini berdistribusikan sama dengan/ekuivalen dengan sebuah kata bermorfem tunggal, misalnya:
Pemuda itu lari
Anak itu lari
Ayah menginginkan kebaikan
Ayah menginginkan rumah
Bunuh dia!
Muliakan Tuhan!
c.    Paradigma
Paradigma yaitu daftar lengkap perubahan afiksasi yang mungkin dengan morfem asal yang sama (Verhaar, 1984:65). Morfem asal itu mungkin mengalami perubahan bentuk akibat afiksasi (Sitindoan, 1984:68). Pengertian paradigma sama maknanya dengan deretan morfologi seperti yang diungkapkan(Ramlan,1983:28) yaitu suatu deretan atau daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya.
Deretan morfologi ini akan berguna dalam menentukan sebuah morfem. Dengan membuat paradigma atau deretan morfologi kita akan dapat menentukan suatu morfem, misalnya:
menulis
penulis
tertulis
bertulis
bertuliskan
tulisan
tulis-menulis
menulisi
ditulisi
dituliskan
bertuliskan
menuliskan
Dari perbandingan kata yang terdapat dalam paradigma di atas, dapat disimpulkan adanya morfem tulis sebagai unsur yang terdapat pada tiap-tiap kata. Dengan demikian kita dapat menentukan bahwa menulis terdiri atas morfem meN- dan tulis dan seterusnya.
Contoh lain dapat kita lihat dari paradigma berikut.
menelantarkan  
ditelantarkan
keterlantaran
Berdasarkan paradigma di atas jelaslah bahwa kata terlantar terdiri atas satu morfem, bukan dua morfem ter- dan lantar.
Fleksi atau morfologi infleksional adalah proses morfemis yang diterapkan pada kata sebagai unsur leksikal yang sama sedangkan derivasi atau morfologi derivasional adalah proses morfemis yang mengubah kata sebagai unsur leksikal tertentu menjadi unsur leksikal yang lain. Fleksi adalah perubahan morfemis dengan mempertahankan identitas leksikal dari kata yang bersangkutan. Derivasi adalah perubahan morfemis yang menghasilkan kata dengan identitas morfemis yang lain. Kaidah-kaidah morfemis yang berlaku untuk infleksi adalah kaidah yang tak beruntun sedangkan kaidah derivasi beruntun urutannya.  Berikut ini kita membahas proses morfemis yang disebut derivasi:
-       Derivasi dalam bahasa Indonesia: verba dan nomina tindakan/ penindak (J.W.M. Verhaar, 1999:145).
Derivasi dari bentuk pradasar (ajar), morfem pradasar ini adalaha tidak bebas. Yang diturunkan dari padanya adalah beberapa verba: mengajar, mengajarkan, mengajari, belajar.  Pengajar dan pengajaran berasal dari kata ajar tetapi tak langsung dan langsung dari mengajar. Demikian pula pelajar dan pelajaran berasal (langsung) dari belajar.

Kata seperti pengajar dan pelajar disebut nomina penindak karena mengandung makna orang yang melakukan tindakan tertentu sedangkan nomina seperti pengajaran dan pelajaran yang diturunkan (langsung) dari masing-masing mengajar dan belajar disebut nomina tindakan.
-       Derivasi morfemis dalam berbagai bahasa (J.W.M. Verhaar, 1999:148).
Berbagai cara untuk meneliti derivasi afiksasional secara antar-bahasa. Pada umumnya ada tiga cara:
i.        Menurut bentuk morfemis bahwa bentuk tertentu bersifat homonim artinya sama bentuknya dengan makna yang berbeda. Contohnya adalah yang dapat kita bedakan pada ke—an1dan ke—an2 dalam bahasa Indonesia. Ke—an1 pasif (kecurian, kelihatan) ke—an2 penomalisasi (keindahan). Ke—an1 dapat dibagi lagi ke—an1a yang adversatif misalnya kecurian dan ke—an1b yang nonadversatif misalnya kelihatan.
ii.      Menurut maknanya bahasa tertentu dapat kita teliti secara antar-bahasa. Dalam bahasa inggris misalnya kita temukan adanya afiks derivasional yang berbeda-beda untuk makna yang sama contohnya nomina penindak. Afiks biasa untuk nomina tersebut dalam bahasa ini adalah sufiks –er, play menjadi player, travel menjadi traveler.
iii.    Perbandingan antar-bahasa menunjukkan tipe-tipe tertentu. Afiks untuk nomina penindak memperalatkan prefiks dalam bahasa Indonesia dan pada umumnya sufiks dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa.

-       Asal dan hasil derivasi menurut kelas kata (J.W.M. Verhaar, 1999:151).
Para ahli linguistik lazim memakai sekumpulan istilah demi analisis proses derivasi. Misalnya bila dari nomina gambar diturunkan verba menggambar, asal itu disebut nominal dan karena hasilnya adalah sebuah verba, maka verba menggambar kita sebut verba denominal.




Proses hangat ---- menghangatkan adalah proses deajektival dan hasilnya dapat disebut verba deajektival. Hasil proses membunuh ----- pembunuhan adalah sebuah nomina deverval. Peristilahan tersebut memungkinkan rumusan singkat dalam analisis morfologi derivasional, misalnya baik menggambar maupun menggambarkan adalah verba denominal. Rumusan ini menjelaskan antara lain bahwa menggambarkan tidak berasal dari menggambar.
Dengan pengistilahan ini kaidah-kaidah derivasi contohnya untuk bahasa Indonesia, semua verba yang berprefiks memper- adalah denominal, deajektival, atau denumeral. Prefiks memper- (kaidah tadi tidak berlaku untuk verba yang berambifikis memper-kan atau memper-i yang memang mungkin sebagai verba nondenominal atau nondenumeral: memperisteri, memperbudak, memperalat, memperpanjang.
2.4      Klitika
Klitika biasanya adalah morfem yang pendek, paling-paling dua silabe, biasanya satu; tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa; melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat arti yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal. Klitika merupakan morfem bebas atau morfem terikat (Verhaar, 1999: 119-120).
Sebagai contoh amatilah klitika Indonesia pun. Misalnya dalam klausa seperti Dalam hal ni pun dia berbakat klitika pun tidak dapat diisahkan dari hal ini. Bandingkan juga konjungsi sekalipun, dalam arti ‘meskipun’, dengan pemakaian punsebaai berikut: Malah sekali pun ia tidak mampir, dengan sekali dalam arti ‘satu kali’ dan pun dengan konotasi “kohensif”. (Maka secara otografis pun dalam kalimat tadi haruslah terpisah dari sekali) (Verhaar, 1999: 119).
Klitik juga merupakan morfem terikat, tetapi tidak memiliki perilaku seperti afiks. Perilaku klitik, yakni:
a)    Dapat dilekatkan pada bermacam-macam jenis kata, tetapi tidak menjadi penentu ciri khas dari jenis kata tertentu;
b)   Memilik makna leksikal;




c)      Apabila dilekatkan pada morfem dasar, tidak pernah mengalami perubahan bentuk;
d)     Dapat menduduki fungsi sintaktis tertentu di dalam frasa atau kalimat;
e)      Tidak mengubah golongan kata yang dilekati;

Berdasarkan letaknya di dalam kata, klitik dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu proklitika (proclitic) dan enklitika (enclitic). Letaknya sebelah kiri atau sebelah kanan dari kata yang menjadi “tuan rumahnya”. Dalam bahasa Indonesia, pun dan –lah berupa enklitika, dan contoh dari proklitika dalam bahasa ini adalah pronomina dalam konstruksi verbal tertentu (Verhaar, 1999: 120). Contoh lain proklitika misalnya, ku- dan kau- pada kuambil dan kauambil, sedangkan enklitika adalah klitik yang diletakkan di akhir kata, misalnya -mu dan - ku dalam bukumu dan bukuku.























BAB III
KESIMPULAN


3.1 Kesimpulan
Proses morfologi atau morfemis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan ya bentuk dasarnya. Bentuk dasarnya itu mungkin berupa kata, seperti pada kata terjauh yang dibentuk dari kata jauh, kata menggergaji yang dibentuk dari kata gergaji. Dengan ringkas dapatlah dikatakan bahwa morfologi ialah ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk kataserta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Kita juga dapat memahami proses jenis morfologik/morfemis baik itu dari komponen proses morfolgi atau morfemis hingga jenis proses morfolgis.
Berdasarkan paparan penjelasan diatas juga dapat kita simpulkan beberapa hal mengenai infleksi yaitu perubahan bentuk kata tanpa mengubah kelas katanya. Kemudian dapat disimpulkan bahwa derivasi merupakan suatu perubahan proses kelas kata (kata kerja) dengan atau tanpa pemindahan kelas kata. Dan juga  paradigma sama maknanya dengan deretan morfologi seperti yang diungkapkan yaitu suatu deretan atau daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Dan kita juga dapat mengetahui dari klitika yang biasanya merupakan morfem yang pendek, paling-paling dua silabe, biasanya satu; tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa; melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat arti yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal hingga peran klitik.









DAFTAR PUSTAKA


Alwi Hasan, dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. 2003. Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. 2008. Jakarta: Rineka Cipta.
Parera, Jos daniel. Morfologi. 1988. Jakarta: Gramedia.
Ramlan. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriftif. 1987. Yogyakarta: Karyono.
Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Morfologi. 2009. Bandung: Angkasa.
Verhaar JWM. Asas-Asas Linguistik Umum. 1999. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI CORONA

CORONA Karya Asep Perdiansyah Corona datang menyerang Dunia menjadi tak tenang Tempat keramaian seketika menghilang Matahari b...