Kamis, 16 Februari 2017

MEMBANDINGKAN RESENSI DENGAN TEKS LAIN


MEMBANDINGKAN RESENSI DENGAN TEKS LAINNYA


            Resensi merupakan suatu bentuk ulasan terhadap suatu karya. Didalam resensi terdapat synopsis, yang kemudian dilanjutkan kedalam tanggapan penulis tentang karya yang diresensinya. Tanggapan yang dimaksud bisa berupa pujian atau kritikan, terkait dengan keunggulan dan kelemahannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberadaan sinopsis merupakan bagian suatu resensi.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel perbandingan berikut.
Aspek-spek
Sinopsis
Resensi
Struktur
Identitas
Orientasi
Rekaman peristiwa
reorientasi
identitas
ringkasan
kepengarangan
kelebihan/kelemahan
saran untuk pembaca
Kaidah
Fakta-fakta ringkas tentang suatu karya
fakta-fakta ringkas tentang suatu karya
pendapat penulis tentang suatu karya

Bersiaplah menjadi penulis buku
            Judul buku    : menggagas bukulangkah efektif, dan sistemik menuliskan ide anda
Pengarang    : Bimbang Trim
Penerbit         : Bunaya, Bandung
Tebal              : 114 + xiv

            “terbitkan atau minggrlah, pupils or perish!”. Ungkapan tersebut popular dikalangan akademisi AS. Seorang mahasiswa atau sarjana yang tak pernah menulis buku dipusat-pusan pendidikan di AS dianggap tak ada apa-apanya. “ All scientist are the same, until one of them wires a book.” Yang berarti “ Semua ilmuan adalah sama, sampai satu diantara mereka menuis buku.”
            Ungkapan tersebut sangat cocok dengan masalah yang digagas oleh buku ini. Melalui sajian yang sistematis, penulis menyajikan cakrawala ilmu dan informasi tentang bagaimana cara menulis buku, sekaligus memotivasi para intelektual untuk berkarya dan berwirausaha dalam dunia penerbitan.
            Dalam suasana kehidupan yang kian beragam, tradisi perbukuan memang merupakan sisi yang terus berkembang dan perlu dikembangkan. Di luar negeri, penerbetian buku telah menjadi lahan bisnis yang menguntungkan, terutama ji Jepang, Amerika dan Eropa.m dinegara tersebut, buku telah menjadi kebtuha utama bagi sebagian masyarakat. Lakunya buku dalam ratusan ribu eksemplar adalah hal yang biasa dan buku disebut best seller adalah huku yang laku diatas satu juta eksemplar. Tidak heran jika bisnis perbukuan berkembang pesat di Negara-negara tersebut hingga tidak sedikit orang yang memilih profesi sebagai penulis buku.
            Menggagas buku menampakkan sisi yang berbeda dengan buku-buku menulis lainnya. Buku ini tidak hahya memaparkan cara menjadi seorang penulis, tetapi lebih jauh dari itu. Buku ini secara lugas memandu pembacanya untuk menjadi seorang penerbit buku. Setidaknya terdapat lima masalah pokok yang dinahas: (1) bagaimana merencanakan sebuah buku, (2) bagaimana para penulis terkenal menuliskan gagasannya, (3) bagaimana proses penyuntingan dan penerbitan sebuah buku, (4) bagaimana cara bernegosiasi dengan penerbit.
            Ide-ide keren itu menjadi asik diikuti karena ditunjang oleh gaya pembahasan yang akrab serta teknik penyuntingan dan penyertaan ilustrasi yang menarik. Dalam bab pertama, penulis menujarakan bahwa gagasan bisa muncul kapan saja. Terkadang bisa dating pada saat anda belajar, berbelanja, atau pun ketika berdesak-desakkan di dalam bus kota. Gagasan bisa pula terlintas ketika anda berada dikamar mandi atau di dapur. Mungkin juga gagasan itu berkembang dalam periode tertentu. Gagasan itulah sumber harta anda untuk menulis buku (hlm. 2).
            Menulis berasal dari gagasan atu ide. Baik buruknya tulisan bergantung pada ide. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ide apapun bisa dijadikan tulisan yang baik. Pendapat itu tidak selalu benar. Ide buruk ditangan seorang penulis yang brilian bisa menjadi tulisan yang baik. Namun, pada kenyataannya mungkin hanya satu penulis diantara seribu penulis yang bisa berbiat demikian. Ide buruk kebanyakan akan menghasilkan tulisan yang buruk pula. Penulis yang baik akan sangat memperhatikan ide yang digarapnya. Ide yang dianggap baik tentunya diharapkan menghasilkan buku yang baik pula.
            Keterbacaan dan kejelasan menjadi factor penting dalam sebuah penyajian naskah buku. Keterbacaan merupakan factor yang mempengaruhi lancarnya laju membaca. Hal ini berhubungan dengan struktur kalimat, EYD, pemilihan huruf, dan urutan penyajian naskah. Sementara kejelasan ibaratkan air yang jernih hingga mampu menampakkan isi sungai atau lautan. Dengan kata lain, kejelasan adalah hal yang berhubungan dengan pemahaman makna atau isi bacaan.
           



Aspek yang menjadi dasar pembahasan terhadap karya nonfiksi pada umumnya berkaitan dengan kelogisan pendapat dan fakta-faktanya.
Jenis resensi
Persamaan
Perbedaan
Resensi karya fiksi
identitas
ringkasan
kepengarangan
Pembahasan berdasarkan unsur  intrisik dan ekstrinsikya
Resensi karya nonfiksi
kelebihan/kelemahan
saran untuk pembaca
Pembahasan berdasarkan kelogisan, objektivitas, kelengkapan fakta, dan unsur-unsur keilmiahannya


C. MENULIS RESENSI
            Resensi merupakan suatu bentuk tulisan yang berisi tinjauan terhadap suatu karya, baik yang berupa novel, pementasan drama, atau tayangan film. Resensi ditulis untuk menarik minat masyarakat agar mereka membaca novel atau menonton pementasan yang dibahas. Gaya persuasif sering ditonjolkan dalam resensi. Persuasive merupakan cara penulis untuk mendorong timbulnya keinginan khalayak untuk turut menikmati karya tersebut. Resensi juga berfungsi sebagai pemandu khalayak dalam menikmati suatu karya.
           
1. Mendalami Unsur  Intrinsik dan Ekstrinsik Novel

A. Unsur-Unsur Intrinsik Novel
          berikut diuraikan secara singkat keenam unsur intrinsik yang ada dalam novel.
            1. Alur
Alur merupakan pola pengembangan cerita yang berbentuk oleh hubungan sebab akibat. Intisari alur adalah konflik. Suatu konflik dalam novel tak bisa dipaparkan begitu saja melainkan harus ada dasarnya. Oleh karena itu, alur sering dikupas menjadi fase-fase berikut: (1) pengenalan, (2) timbulnya konflik, (3) konflik memuncak, (4) klimaks, dan (5) pemecaan masalah.
            Pada fase pengenalan , pengarang mulai melukiskan situasi dan mulai mengenalkan tokoh-tokoh cerita sebagai pendahuluan. Bagian kedua, pengarang mulai menampilkan pertikaian yang terjadi antar tokoh. Pertikaian ini semakin meruncing dan puncaknya terjadi pada bagian keempat (klimaks).  Setelah fase tersebut terlampaui, sampailah pada bagian kelima (pemecahan masalah). Alur menurun menuju pemecahan masalah dan penyelesaian cerita.
            2. Tema
            Tema adalah inti atau ide pokok sebuah cerita. Tema merupakan dasar pengarang dalam menyampaikan ceritanya. Tema suatu cerpen/novel menyangkut segala persoalan dalam kehidupan manusia, baik itu berupa masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, dan segalanya.
           
3. Penokohan
            Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh, pengarang dapat menyebutkan secara langsung, misalnya si A itu penyabar dan si B itu murah hati. Penjelasan karakter tokoh dapat pula melalui gambaran fisik dan perilakunya, lingkungn kehidupannya, tata kebahasaannya, jalan fikirannya, ataupun melalui gabaran oleh tokoh lain.
            4. Sudut pandang
            Sudut pandang adalah posisi pengarang atau narrator dalam membawakan cerita. Posisi pengarang atau narrator dapat dilakukan dengan cara-cara berikut
a)    Narator serbatahu
b)    Narator bertindak objektif
c)    Narator (ikut) aktif
d)    Narator sebagai peninjau

5. Latar
Latar adalah tempat,  waktu, dan suasana terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh. Dalam cerpen, novel, atau pun bentuk prosa lainnya, kadang-kadang tidak disebutkan secara jelas latar perbuatan tokoh itu, yang ada hanya penyebutan latar secara umum. Misalnya, di tepi hutan, di sebuah desa, pada suatu waktu, pada zaman dahulu, suatu senja.
6. Amanat
Amanat merupakan ajaran moral atau pesan daktis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Tidak jauh beda dengan bentuk carita lainnya, amanat dalam novel akan disampaikan rapid an disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk menemukannya, tidak cukup dengan menbaca dua atau tiga paragraph, melainkan harus membacanya sampai tuntas.




B. Unsur-Unsur Ekstrinsik Novel

  1. Latar belakang pengarang
  2. Kondisi sosial budaya
  3. Tempat atau kondisi alam


2. Mendalami pementasan drama
      5 aspek yang perlu diamati
  1. Gerak
Gerak merupakan suatu aspek yang harus ada didalam pementasan drama dikarenakan apabila tidak adanya suatu gerakan didalam pementasan drama maka,drama tersebut akan tidak dapat dimengerti oleh penonton.
  1. Tata busana
Tata busana ini dapat membantu jalannya suatu drama menjadi lebih mendalam karena, busana yang dipakai oleh para pemain dapat menggambarkan suatu karakter yang sedang diperankan oleh pemain drama.
  1. Tata panggung
Property yang ada dipanggung dapat menceritakan keadaan suatu pementasan drama yang sedang dilakukan. Contohnya apabila banyk pohon-pohon yang tinggi berarti ia sedang ada di hutan, apabila banyak rumah-rumah berarti I sedang ada diperkampungan atau diperkotaan.
  1. Tata bunyi
Suatu suara yang dapat mendukung jalannya cerita. Misalnya ada suara serigala atau harimau berarti ia sedang ada dihutan dengan keadaan yang sangat berbahaya.
  1. Tata lampu
Tata lampu ini juga sangat penting karena ia dapat menghidupkan suatu cerita yang sedang dimainkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI CORONA

CORONA Karya Asep Perdiansyah Corona datang menyerang Dunia menjadi tak tenang Tempat keramaian seketika menghilang Matahari b...