Selasa, 30 Januari 2018

KONSEP DAN TEORI SINTAKSIS (Tata Kalimat Bahasa Indonesia)








KONSEP DAN TEORI SINTAKSIS
(Tata Kalimat Bahasa Indonesia)












BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
       Pengertian tentang bahasa sangat beraneka ragam, bergantung pada teori apa yang dipakai. Setiap teori mempunyai definisi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Menurut teori struktural, bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu sistem tanda arbitrer yang konvensional. Berkaitan dengan ciri sistem, bahasa bersifat sistematik dan sitemik. Bahasa bersifat sistematikik karena mengikuti ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah yang teratur. Bahasa juga bersifat sistemik karena bahasa itu sendiri merupakan suatu sistem ata subsistem-subsistem. Misalnya, subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem semantik, dan subsistem leksikon.
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Sebagai sebuah sistem, bahasa memiliki peran yang baku untuk mengatur penggunanya. Setiap pengguna bahasa harus patuh dan taat pada sistem tersebut. Dengan demikian akan terjadi keteraturan dalam penggunaan bahasa.
Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam aktivitas komunikasi sehari-hari masih terdapat banyak problematika terutama yang berkaitan dengan tata bahasa. Para pengguna bahasa kerap mengabaikan aturan baku dalam penggunaan tata bahasa sehingga terjadi ketidakteraturan.Ketidakteraturan ini menimbulkan kesalahan dalam praktik berbahasa, mulai dari upaya memahami ujaran orang lain hingga kemampuan untuk mengutarakan gagasan oleh sang penutur.
Sebagai seorang makhluk sosial yang menggunakan bahasa sebagai media untuk berkomunikasi sudah seharusnya kita memahami dan menguasai tata bahasa secara komprehensif agar tercipta praktik komunikasi yang baik. Sintaksis sebagai salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari tata kalimat memiliki peran yang penting dalam upaya membangun konstruksi kemampuan berbahasa seorang pengguna bahasa. Oleh sebab itu, menjadi sebuah keharusan bagi kita, sebagai pengguna bahasa untuk mempelajari dan memahami sintaksis secara komprehensif.


1.2  Tujuan Makalah
Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut:
a.       Menjelaskan konsep dasar sintaksis.
b.      Mendeskripsikan satuan gramatik dalam sintaksis.
c.       Menguraikan hasil analisis mengenai frasa.

1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan diurai dalam makalah ini meliputi:
a.       Bagaimana konsep dasar sintaksis?
b.      Apa saja satuan gramatik dalam sintaksis?
c.       Apa pengertian, tipe, dan jenis frasa?






















BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian Sintaksis
       Secara etimologi, sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti dengan dan tattein yang berarti menempatkan. Jadi, sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
       Dalam setiap bahasa ada seperangkat kaidah yang sangat menentukan apakah kata-kata yang ditempatkan bersama-sama tersebut akan berterima atau tidak. Perangkat kaidah ini sering disebut sebagai alat-alat sintaksis, yaitu urutan kata, bentuk kata, intonasi, da konektor yang biasanya berupa konjungsi. Keunikan setiap bahasa berhubungan dengan alat-alat sintaksis ini. Ada bahasa yang lebih mementingkan urutan kata daripada bentuk kata. Ada pula bahasa yang lebih mementingkan intonasi daripada bentuk kata. Bahasa Latin sangat mementingkan bentuk kata daripada urutan kata.
       Sintaksis dalam bahasa Belanda syntaxis, dalam bahasa Inggris syntax, dan dalam bahasa Arab nahu adalah ilmu bahasa yang membicarakan hubungan antar unsur bahasa untuk membentuk sebuah kalimat. Dalam bahasa Yunani sintaksis disebut sintaksis suntattein yang berarti sun ‘dengan’ dan tattein ‘menempatkan’. Secara etimologis istilah tsebut berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata (frasa) atau kalimat dan kelompok-kelompok kata (frasa) menjadi kalimat. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia, sintaksis disebut dengan ilmu kata kalimat.
Sintaksis bersama-sama dengan morfologi merupakan bagian dari tatabahasa atau gramatika. Jika dalam bidang morfologi dibicarakan tentang morfem, kata, maka dalam sintaksis dibicarakan tentang frasa, klausa, dan kalimat sebagai kesatuan-kesatuan sistemisnya. Satuan frasa terdiri atas unsur-unsur yang berupa kata; satuan klausa terdiri atas unsur-unsur yang berupa frasa; dan satuan kalimat terdiri atas unsur-unsur yang berupa klausa. Sebagai bagian dari ilmu bahasa, sintaksis berusaha menjelaskan hubungan antara unsur-unsur satuan tersebut baik berdasarkan hubungan fungsional maupun hubungan makna.
2.2  Konsep Dasar Sintaksis
Sintaksis adalah cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya atau disebut juga sebagai ilmu tata kalimat. Sintaksis memiliki peran vital dalam tata bahasa karena menjadi landasan bagi pengguna untuk menyusun konsep guna mengutarakan gagasannya baik secara lisan maupun tulis.
Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (s), predikat (p), objek (o), dan keterangan yang disebut sebagai fungsi sintaksis. Sedangkan yang terdiri dari nomina, verba, ajektiva, dan numeralia merupakan kategori sintaksis. Lalu, jika terdiri dari pelaku, penderita, dan penerima merupakan peran sintaksis.
a.         Fungsi Sintaksis
Fungsi sintaksis terdiri atas unsur-unsur S,P,O, dan K. amatilah contoh berikut.

“Nenek melirik kakek pagi tadi”

Susunan kalimat diatas yaitu nenek sebagai subjek yang aktif. Melirik sebagai predikat. Kakek sebagai penderita (objek) yang pasif. Pagi tadi sebagai keterangan waktu.

b.      Kategori Sintaksis
Kategori sintaksis terdiri atas nomina, verba, ajektiva, dan numeralia. Dengan memperhatikan contoh yang terdapat diatas, maka dapat dinyatakan bahwa kata nenek berkategori nomina, sedangkan kata melirik berkategori verba. Lalu, kata kakek dan pagi tadi sama-sama berkategori nomina.

c.         Peran Sintaksis
Peran sintaksis terdiri atas pelaku, penderita, penerima. Berdasarkan contoh sebelumnya, maka kata nenek berperan sebagai pelaku (agentif). Lalu, kata melirik memiliki peran aktif, kakek sebagai sasaran, dan tadi pagi sebagai peran waktu.
Dalam suatu kalimat ataupuun wacana, keempat fungsi itu tidak harus selalu harus ada dalam setiap struktur sintaksis. Namun, jika fungsi S dan P terdapat dalam suatu kalimat, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai struktur kalimat. Oleh karena itu, perlu di ingat bahwa suatu kalimat apabila tidak ditemukan fungsi subjek dan predikat, maka belum dapat disebut sebagai sebuah struktur sintaksis.
Perhatikan kalimat berikut ini!
(1)   rambutan ayah belum memerah
(2)   nenek membersihkan dapur
Verba merah merupakan verba intransitif. Verba intransitif yaitu verba yang tidak memerlukan munculnya suatu objek. Sedangkan verba membersihkan pada kalimat (2) adalah verba transitif, yang memang diharuskan munculnya sebuah objek.

Namun, dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu ada. Perhatikan contoh berikut.
(1)   pembantu itu sedang mengepel
(2)   pembalap itu sangat mengecewakan
Verba pada kalimat (1) merupakan sebuah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh seorang pembantu yaitu mengepel rumah seorang majikan. Sedangkan verba pada kalimat (2) menyatakan bahwa pelakunya atau orang yang mengalaminya adalah orang pertama, saya atau orang pada umumnya. Suatu fungsi sintaksis menyatakan hadir tidaknya tergantung pada konteks.

2.3  Satuan Gramatik dalam Sintaksis
Satuan gramatik atau disingkat satuan saja adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun arti gramatikal (Ramlan, 2001:27). Satuan gramatik dalam bahasa mencakup; morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Meski begitu, yang menjadi objek kajian sintaksis hanyalah frasa, klausa, dan kalimat. Sedangkan morfem dan kata merupakan objek kajian morfologi.
a.    Frase
Frase adalah gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (hubungan kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek-predikat atau berstruktur predikat-subjek), atau frase lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Contoh: buku merah, rumah besar, dll.


b.    Klausa
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan.
Klausa juga berpotensi menjadi kalimat tunggal karena di dalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib, yaitu subjek dan predikat. Klausa belum bisa disebut kalimat karena belum memiliki intonasi final. Contoh: kondisinya sudah membaik.
c.    Kalimat
Kalimat adalah susunan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final. Contoh: Paman Benyamin akan berkunjung ke Lampung bulan depan.

2.4  Analisis Frasa
Frase adalah gabungan kata yang bersifat nonpredikatif (hubungan kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek-predikat atau berstruktur predikat-subjek), atau frase lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Frasa memiliki ciri-ciri berupa: (1)  frasa terdiri atas minimal dua kata atau lebih, (2) memiliki fungsi gramatikal dalam kalimat, (3) bersifat nonpredikatif.

2.4.1        Jenis Frasa
Berdasarkan kategori unsur-unsurnya, frasa dibedakan menjadi:
a.    Frasa Endosentris
Frasa endosentris adalah frasa yang salah satu unsur atau keduanya merupakan unsur inti atau pusat. Frasa endosentris juga diartikan sebagai frasa yang mempunyai distribusi sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya (Ramlan dalam Putrayasa,2006).
Contoh:
-       Dua orang mahasiswa sedang membaca buku.
-       Dua orang – sedang membaca buku.
-       Mahasiswa sedang membaca buku.
Frasa endosentris itu sendiri masih terbagi lagi ke dalam tiga bagian, yaitu:
1)   Frasa endosentris yang memiliki hubungan koordinatif
Hubungan koordinatif adalah hubungan yang menyatakan bahwa konstituen-konstituen (unsur-unsur) pembentuk satuan yang lebih besar memiliki kedudukan yang setara (keduanya merupakan unsur inti). Hubungan koordinatif yang lazim ditemukan dalam konstruksi frase adalah hubungan yang bersifat penambahan dan pemilihan.
Contoh:
-       Ibu dan bapak
-       Membaca dan menulis
-       Suami atau istri

2)   Frasa endosentris yang memiliki hubungan atributif
Frasa golongan ini memiliki unsur-unsur yang tidak setara (salah satu berupa unsur inti lainnya unsur tambahan). Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung “dan” atau “atau”.
Contoh:
-       Istri muda
-       Buku baru
-       Sekolah inpress
3)   Frasa endosentris yang memiliki hubungan apositif
Hubungan apositif adalah hubungan yang menjelaskan sekaligus dapat berperan sebagai pengganti bagian yang dijelaskan (keduanya merupakan unsur inti tetapi saling menjelaskan).
Contoh:
-       Yogya, kota pelajar.
-       Walikota Bandarlampung, Herman H.N.
b.    Frasa Eksosentris
Frasa eksosentris adalah frasa yang semua unsurnya tidak berdistribusi sama dengan frasanya (Ramlan dalam Putrayasa, 2006). Frasa eksosentris tidak memiliki unsur pusat sebagaimana frasa endosentris. Contoh: di taman kota. Dalam frasa tersebut tidak terdapat distribusi yang sama. Ketidaksamaan distribusi itu dapat dilihat pada uraian berikut:
-       Mereka membaca buku di taman kota.
-       Mereka membaca buku di. (tidak gramatikal)
-       Mereka membaca buku taman kota. (tidak gramatikal)

2.4.2   Perluasan Frasa
Perluasan frasa adalah pemberian komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Faktor yang mempengaruhi perluasan frasa yaitu:
a.    Faktor Induktif
Merupakan rangkaian frase yang diawali dari kata umum ke khusus.
Contoh:
-       Mobil
-       Mobil sedan
-       Mobil sedan berwarna biru
-       Mobil sedan berwarna biru yang masih baru

b.    Faktor Produktif
Terdiri atas kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar, dan pembatas.
Contoh:
-       Mereka tidak jadi berangkat (ingkar)
-       Ibu akan segera datang (kala)










BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Sintaksis adalah cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya atau disebut juga sebagai ilmu tata kalimat. Sintaksis memiliki peran vital dalam tata bahasa karena menjadi landasan bagi pengguna untuk menyusun konsep guna mengutarakan gagasannya baik secara lisan maupun tulis.
Kajian sintaksis mencakup frasa, klausa, dan kalimat. Frasa diartikan sebagai gabungan kata yang bersifat nonpredikatof dan menduduki satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Berdasarkan kategori unsur-unsurnya, frasa dibagi menjadi dua yaitu (1) frasa endosentris dan (2) frasa eksosentris.
Frasa dapat diperluas dengan menggunakan dua teknik yaitu (1) induktif yaitu memberikan komponen baru berupa kata khusus dari unsur utama frasa yang berupa kata umum dan (2) produktif yaitu berupa penambahan unsur modalitas, ingkaran, dan kala.

3.2 Saran
Dalam mempelajari tata bahasa, perlu dilakukan secara cermat karena terdapat banyak pengelompokan jenis satuan bahasa. Untuk itu, saran yang dapat penulis berikan kepada pembaca adalah:
a.         Cermati setiap jenis satuan bahasa sehingga dapat membedakan masing-masing satuan dengan akurat.
b.        Mengaplikasikan teori tata bahasa ke dalam kehidupan sehari-hari agar penggunaan tata bahasa yang benar menjadi lebih bermakna dan melekat.


1 komentar:

PUISI CORONA

CORONA Karya Asep Perdiansyah Corona datang menyerang Dunia menjadi tak tenang Tempat keramaian seketika menghilang Matahari b...