Senin, 13 Maret 2017

Pentingnya Kesantunan Berbahasa dalam Interaksi Sosial


Prinsip-Prinsip (Maksim) Kesantunan Berbahasa

A.      Pengertian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesantunan merupakan kehalusan dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya). Dengan demikian, konsep kesantunan berkaitan dengan dua hal, yakni pada bahasa dan perilaku seseorang.
a.       Pada aspek bahasa, kesantunan tampak pada pilihan kata, nada, intonasi, dan struktur kalimatnya.
b.      Pada tingkah laku, kesantunan dapat dilihat pada ekspresi, sikap, dan gerak-gerik tubuh lainnya.
Kesantunan juga dapat diartikan sebagai cara berbahasa dengan tujuan mendekatkan jarak sosial antara para penuturnya dalam peran mereka yang berbeda-beda. Dalam kesantunan, ada sikap saling menghargai. Selain itu, ada pula yang mengartikan kesantunan sebagai upaya untuk mewujudkan, mempertahankan, serta menyelamatkan harga diri dan kehormatan mitra bicara selama berlangsungnya suatu percakapan dalam suatu masyarakat tutur.

B.      Indikator Kesantunan
Indikator pembentuk kesantunan berbahasa dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.       Etika atau kaidah bahasa
Etika berbahasa antara lain mengatur hal-hal berikut.
a.       Apa yang harus kita katakana kepada seseorang dalam waktu dan keadaan tertentu?
b.      Ragam bahasa apa yang paling sesuai kita gunakan?
c.       Kapan dan bagaimana kita bergantian berbicara serta menyela pembicaraan orang lain?
d.      Kapan kita harus diam?
e.      Bagaimana kualitas suar adan sikap kita selama berbicara?
2.       Norma sosial
3.       Sistem budaya

Kesantunan juga dipengaruhi oleh konteks serta peran yang terlibat dalam komunikasi itu sendiri.
a.       Konteks berkaitan dengan tempat, waktu, atau suasana yang melatarbelakangi terjadinya komunikasi.
b.      Peran berkaitan dengan usia, kedudukan, atau status sosial dari penutur dan mitra tutur selama berlangsungnya proses komunikasi.

Kesantunan tidak berarti harus membelah, baik penutur maupun mitra tuturnya harus memiliki sikap bekerja sama dengan memenuhi prinsip-prinsip (maksim) berikut.
1.       Maksim kualitas
Maksim ini menuntut peserta percakapan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Sebagai contoh, kalau mitra tutur meminta penjelasan tentang keadaan kesehatan temannya, kita  harus memberikan informasi tersebut secara akurat dan tidak dibuat-buat kalau memang tidak tahu.
2.       Maksim kuantitas
Maksim ini menuntut penutur untuk memberikan kontribusi yang secukupnya kepada mitra tuturnya.
Contoh:
a.       Abang saya yang laki-laki sudah bekerja.
b.      Abang saya sudah bekerja.
Di dalam kalimat (a) kata abang sudah mencakup makna `laki-laki’ sehingga kata laki-laki dalam kalimat tersebut memberikan kontribusi berlebih.
3.       Maksim relevansi
Maksim ini menuntut peserta percakapan untuk memberikan kontribusi yang relevan dengan situasi pembicaraan.
Contoh:
a.       A: Kamu mau makan apa?
B: Nasi goring.
b.      A: Kamu mau makan apa?
B: saya sudah makan.
Di dalam percakapan (a) kitta dapat melihat bahwa B sudah mengungkapkan jawaban yang relevan atas pertanyaan A. Sebaliknya, jawaban yang tidak relevan terlihat di dalam percakapan (b).
4.       Maksim cara
Maksim ini menuntut setiap peserta percakapan harus berbicara langsung dan lugas serta tidak berleebihan.
Contoh:
a.       A: Mau yang mana, music pop atau rok?
B: Yang pop saja. Lebih santai didengar.
b.      E: Mau yang mana, music pop atau rok?
F: Sebetulnya music pop enak karena santai didengar. Tapi music rok dapat membangkitkan semangat.
  E: Jadi, kamu pilih yang mana?
Di dalam kedua penggalan percakapan di atas, kita dapat melihat bahwa jawaban B adalah jawaban yang lugas dan tidak berlebih. Pelanggaran terhadap maksim cara dapat dilihat dari jawaban F.

Kesantunan dalam berkomunikasi berkaitan dengan tiga unsure berikut.
1.       Tindak lokusi, berupa ujaran yang dihasilkan oleh seorang penutur. Hal ini tampak pada pilihan kata atau struktur kalimatnya.
Contoh: Masih ada makanan?
2.       Tindak ilokusi, berupa maksud yang terdapat dalam ujaran. Suatu maksud dapat disampaikan dalam pilihan kata ataupun struktur kalimat yang tidak sama.
Contoh: Mau diberi makan.
3.       Tindak perlokusi, berupa efek yang ditimbulkan oleh ujaran.
Contoh: Kasihan, menyiapkan makanan.

C.      Aspek-Aspek Kesantunan Berbahasa
Selain tampak pada penggunaan kata tertentu atau penggunaan kata sapaan, ciri kesantunan berbahsa dapat dilihat pada jenis kalimat dan strukturnya.
1.       Jenis Kalimat
Kalimat berita dan kalimat tanya dipandang lebih santun daripada kalimat perintah.
Contoh:
a.       Perut saya sudah semakin keroncongan. (Kalimat berita)
b.      Bagaimana, sudah siap makanannya? (Kalimat tanya)
c.       Saya minta makan. (Kalimat perintah)
Ketiga kalimat tersebut sama-sama mengutarakan maksud ingin makan. Akan tetapi, dengan cara pengungkapan yang berbeda, derajad kesantunannya pun berbeda pula.
2.       Struktur Kalimat
Kalimat yang berstruktur lebih lengkap akan menyebabkan lebih santun daripada kalimat yang strukturnya pendek.
Contoh:
Santun
Tidak Santun
Kakak mau makan sekarang?
Kalau sudah siap, boleh juga.
Kakak mau makan sekarang?
Ya.
Bagaimana keadaan Ibu di rumah?
Alhamdulillah, baik. Berkat doa kalian.
Bagaimana keadaan Ibu di rumah?
Sehat.

Kesantunan tidak hanya ditentukan oleh unsure-unsur kebahasaan, tetapi juga oleh konteks berkomunikasi atau faktor-faktor nonkebahasaan, seperti mitra tutur, tempat, waktu, dan topic pembicaraan.
a.       Mitra Tutur
Usia dan statu sosial merupakan beberapa factor yang turut berpengaruh pada kesantunan berbahasa. Bertutur kepada usianya lebih tua harus lebih santun daripada bertutur kepada orang yang usianya lebih muda.
Contoh :
Keadaan Mitra Bicara

Contoh Tuturan
Usia
Tua
Bapak mau ke mana?

Muda
Kamu mau ke mana?
Status Sosial
Tokoh
Kapan Ibu bisa datang ke rumah saya?

Rakyat Biasa
Bisa datang ke rumah saya nanti?

b.      Tempat
Kita harus lebih santun sekalipun terhadap Adik, misalnya kita harus dapat berbahasa lebih santun ditempat-tempat tersebut dibandingkan dengan ketika dirumah.
Mitra Tutur
Tempat
Tuturan
Adik
Rumah
Ada kamus? Pinjamlah.

Sekolah
Kakak pinjam kamus, ya, De.
Teman
Di jalan
Kamu ternyata pintar ngeles, ya?

Rpat OSIS
Sebaiknya kita tidak mencari pembenaran pembenaran dalam berpendapat.



c.       Waktu
Waktu atau situasi sering menuntut perbedaan keragaman berbahasa pada pihak pihak yang terlibat didalamnya. Walaupun tempat dan mitra tuturnya sama, situasinya dapat berbeda dan hal tersebut berpengaruh pada cara kita berbahasa.
d.      Topik Pembicaraan
               Beragam topic mungkin muncul dalam berbagai peristiwa interaksi sosial, misalnya tentang persahabatan, hiburan, kemasyarakatan, ilmu pengetahuan, dan keagamaan. Semua yang berkaitan tentang dunia hiburan berbeda dengan gaya bicara kita pada saat topic keagamaan, hal itu harus disesuaikan pada tempatnya masing masing.

4.      Strategi Berbahasa Santun
Berbahasa santun sangat penting dalam rangka tercapainya tujuan komunikasai atau interaksi sosial, Untuk itu beragam cara dapat dilakukan, diantaranya dengan memperhatikan skala atau ingkat kesantunan berikut.
a.       Skala Untung Rugi (cost benefit scale)
Skala pembicaraan  yang semakin merugikan penutur akan semakin santnn tuturan tersebut. Sebaliknya.
1.       Tuturan yang merugikan penutur ditandai dengan penggunaan kata kata yang membesarkan mitra tutur atau memuji orang lain. Contoh, dengan penggunaan kata ganti bos, juragan, dan sejenisnya untuk mitra tutur. Namun, dalam konteks komunikasi, cara seperti itu merupakan suatu bentuk kesantunan berbahasa.
2.       Tuturan yang menguntungkan penutur ditandai oleh penggunaan kata kata yang menempatkan status mitar tutur berada dalam posisi lebih rendah. Contoh, digunakan kata ganti kamu dan kta kata lainnya yang bernada merendahkan mitra tutur.
Berdasarkan hal tersebut, satu prinsip ang harus diperhatikan dalam menciptakan kesantunan berbhasa adalah memberikan keuntungan pada mitra tutur (tact maxim, maxim kebijaksanaan).
b.      Skala Pilihan (optionality scale)
Semakin banyak pilihan keputusan ynag diberikan penutur kepada mitra tuturnya, dianggap semakin santun bahasanya. Sebaliknya.


Memberiakn banyak pilihan (santun)
Tidak memberikan banyak pilihan (tidak santun)
1 Mau bayar sekarang atau besok?
Utang itu harus dibyar sekarang!
2 Terserah Ibu, mau ikut alhamdullillah, tdak pun tidak apa-apa.
Ibu harus ikut supaya saya tidak sendirian di jalan.
3 Mau yang mana: yang merah atau yang ungu bajunya?
Pilih yang ungu saja karena pas ukurannya.

c.       Skala Tidak Langsung (idirectness scale)
Semakin langsung atau terbuka suatu maksud disampaikan, semakin tidak santun tuturan itu. Sebaliknya, semakin tidak langsung, tuturan itu dianggap semakin santun.
Tidak langsung (santun)
Langsung ( Tidak santun)
1 Waduh, sepertinya perut sudah kriuk-   kriuk.
1 Minta makan dong!
2 Maaf, Adik sudah punya teman belum?
2 Mau’ kan jadi pacar saya?
3 Rumah ini tidak ada WC nya, ya?
3 Rumah ini jelek sekali.

d.      Skala keakraban (authority scale)
Semakin akrab hubungan sosial antara pentur dengan mitar tuurnya, bahsa yang digunakan cenderung kasar. Sebaliknya, semakin jauh hubungan sosialnya, bahasa yang digunakan  cenderung lebih santun.
Akrab (Tidak Santun)
TIDAK Akrab ( santun)
1 Hai, mau kemana?
1 Maaf, bapak mau kemana?
2 Jadi, ini rumah kamu?
2 Rumah kakak yang ini?
3 Kamu yang ketuanya, mau kan?
3 Bila tidak keberatan, bagaimana kalau anda jadi ketuanya?

Berdasarkan contoh tesebut. Kesantunan berbahasa tampak pada penggunaan kata-katanya, seperti penggunaan kata tolong dan maaf.
1)      Gunakan kata”tolong” untuk meminta bantuan kepada orang lain.
2)      Gunakan kata “maaf” untuk tuturan yang menyinggung orang lain.
3)      Gunakan kata “beliau” untuk menyebut orang ketiga yang dihormati.
Pilihan-pilihan tersebut tidak lepas dari maksud untuk tidak meremehkan mitra tutur sehingga ia pun menjadi senang. Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan,yakni :
1)      Tidak memerlukan mitra tutur sebagai orang yang merasa diatur.
2)      Tidak mengatakan hal-hal yang kurang baik mengenai orang lain.
3)      Tidak menunjukkan rasa senang atas derita atau kemarahan mitra tutur.
4)      Tidak mengeluarkan kta-kata yang bisa menjatuhkan harga diri mitra tutur.
5)      Tidak memuji, membanggakan secara berlebihan.

Ø  Strategi kesantunan juga dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a)      Memberikan besarnya perhatian kepada mitra tutur pada presentasi
Contoh: Wah,cantik sekali. Baru potong rambut ya?”
b)      Mengintensifkan perhatian mitra tutur dengan mendramatisasi peristiwa
Contoh: “saya turun tangga dan kamu tahu apa yang aku lihat? Semua berantakan.”
c)       Menggunakan penanda identitas kelompok dan mitra tutur
Contoh: “ bagaimana, Sam? Jadi ikut tidak?”
d)      Menyatakan persetujuan denagn topik yang umum yang sama-sama dirasakan
Contoh: “panasnya hari ini bukan main ya?”
e)      Menghindari ketidaksetujuan dengan pura-pura setuju
Contoh: A:”Kamu tidak menyukai dia ya?”
                B:” ya, disatu sisi.”
f)       Menunjukkan hal-hal yang dianggap mempunyai kesamaan melalui basa basi
Contoh: “gimana, kemarin kamu nonton tinju kan?”
g)      Menggunakan lelucon
Contoh:”motormu yang sudah butut sebaiknya untuk aku saja.”
h)      menyatakan paham akan keinginan mitra tutur
contoh:” aku tahu kamu tidak menyukai pesta, tapi yang ini sangat luar biasa. datang ya?
i)        menunjukkan keoptimisan
contoh:” tidak masalah. semua ini akan dapat diatasi dengan baik.”
j)        memberikan tawaran atau janji
contoh:” aku pasti akan mengirimkannya minggu depan. jangan khawatir!”
k)      melibatkan mitra tutur dalam suatu aktivitas
contoh:” sebaiknya, kita beristirahat sebentar.”
l)        memberikan pertanyaan atau meminta alasan
contoh:” mengapa kamu tidak jadi datang kerumahku?”
m)    menyatakan hubungan secara timbal balik
contoh:” aku akan menyelesaikan ini untukmu, kalau kamu mau membuatkan aku masakan yang enak.”
n)      memberikan hadiah kepada pendengar.

strategi kesantunan bagian terakhir (N) merupakan strategi berwujud nonverbal. adapun sikap yang dapat menimbulkan tidak santun sebagai berikut.
a)      penutur menyampaikan kritik secara langsung kepada mitra tutur dengan kata-kata kasar.
b)      penutur didorong emosi yang berlebihan ketika bertutur.
c)       penutur protektif terhadap pendapatnya dengan maksud agar mitra tutur tidak dipercaya oleh pihak lain.
d)      penutur memojokkan mitra tuturnya sehingga tidak berdaya.
penutur menyampaikan tuduhan dan k

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI CORONA

CORONA Karya Asep Perdiansyah Corona datang menyerang Dunia menjadi tak tenang Tempat keramaian seketika menghilang Matahari b...