Selasa, 06 Oktober 2015

CERPEN TUNAS BANGSA DI HAMPARAN KEBUN TEBU


TUNAS BANGSA DI HAMPARAN KEBUN TEBU
Karya Asep Perdiansyah

Embun pagi berkilau seperti berlian, hamparan kebun tebu nan hijau yang sangat menyejukkan mata, sang surya menampakkan cahaya berwarna kuning menghangatkan tubuh ini yang diselimuti kabut putih yang tebal. Farrel begitulah teman-teman sekolah memanggilku, dengan penuh semangat ia melangkahkan kaki melewati hamparan kebun tebu untuk menuju ke sekolah. Farrel mempunyai cita-cita sebagai seorang dokter. Mengapa ia ingin menjadi seorang dokter cita-cita ini bermula dari pengalaman kehidupannya yang sangat pahit. Farrel hidup sangat susah ayahnya telah meninggal dunia waktu ia masih usia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung. Farrel hidup berdua dengan ibunya setelah ayah yang ia cintai tiada. Ketika ia berumur 5 tahun ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung nyawa ayahnya tidak dapat tertolong karena untuk menuju ke rumah sakit butuh waktu dan jarak tempuh yang lama sehingga di tengah perjalanan beliau mengembuskan nafas terakhir. Andai saja waktu itu jarak rumah sakit dari rumahnya dekat ayahnya mungkin dapat tertolong karena segera dapat perawatan dari dokter. Tetapi kita tidak dapat mengetahui takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu ia bercita-cita menjadi seorang dokter untuk menolong orang-orang yang sedang sakit. Ia tidak ingin pengalaman buruknya terjadi oleh orang lain. Tiara adalah nama ibunya ia adalah pelita yang selalu menerangi dalam kehidupannya. Ia bekerja sebagai buruh tebang di perusahaan perkebunan tebu.
            Dengan penuh semangat Farrel menuju ke sekolah bersama teman-temannya. Ia mempunyai teman dekat namanya Ferdi, Alvaro, dan Yoni. Mereka mempunyai cita-cita yang berbeda Ferdi bercita-cita sebagai tentara, Alvaro bercita-cita sebagai Pilot, dan Yoni bercita-cita sebagai Master Chef terkenal. Mereka terlahir dengan keluarga yang masih utuh dan dari keluarga yang mampu sedangkan Farrel hanyalah tunas yang tumbuh tanpa pupuk dan air dipenuhi dengan rumput liar. Ia anak orang tidak mampu dia hidup sebatang kara ayahnya telah tiada ia hanya hidup berdua dengan seorang ibu yang penuh kasih sayang selalu menemaninya. Farrel selalu bermimpi kelak ia akan menjadi seorang dokter yang sukses tetapi itu hanya mimpi ia hanya anak buruh tebang harian di perkebunan tebu mana mungkin mempunyai biaya kuliah untuk dapat mengenyam bangku pendidikan kuliah di Fakultas Kedokteran jangankan untuk biaya kuliah kedokteran yang ratusan juta untuk makan sehari-hari saja harus berjuang keras. Tetapi bukan Farrel jika tidak semangat dan optimis dalam menggapai cita-citanya. Ia selalu rajin dan semangat dalam belajar di sekolah ia juga tidak pernah lupa untuk menjalankan ibadah dan selalu berdoa untuk ayahnya yang telah tiada dan ibunya yang sangat dicintai.
            Farrel kini telah tumbuh menjadi anak yang dewasa ia kini duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA. Hari itu pun telah tiba, hati Farrel berdebar-debar dengan sangat kencang karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan di sekolah. Farrel sangat bahagia karena lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia mendapatkan nilai UN tertinggi di sekolahnya. Ada berita yang sangat membahagiakan karena ia mendapatkan nilai tertinggi Farrel mendapatkan beasiswa kuliah kedokteran Universitas Indonesia. Farrel merupakan mahasiswa kedokteran termuda karena ia waktu SMA masuk kelas akselerasi walaupun termuda ia anak yang sangat cerdas. Farrel sangat bersemangat dalam menuntut ilmu di kampus. Ia ingin sekali mewujudkan cita-citanya sebagai seorang dokter. Beberapa tahun kemudian akhirya dia lulus sebagai S1 Kedokteran Universitas Indonesia. Ia kini telah menjadi seorang dokter cita-cita yang dulu hanyalah sebuah mimpi kini menjadi kenyataan. Farrel mengabdikan dirinya sebagai tenaga medis di daerah-daerah terpencil, daerah yang sangat sulit untuk mendapatkan akses kesehatan yang memadai. Ia juga telah mendirikan beberapa rumah sakit di daerah-daerah terpelosok negeri ini. Farrel menjadi dokter yang sukses, ia membatu masyarakat yang membutuhkan dengan sepenuh hati, warga yang sakit dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan gratis tanpa dipungut bayaran sedikit pun. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha pasti bisa dan jangan lupa juga disertai dengan doa, gapailah cita-citamu setinggi mungkin, orang yang baik adalah orang yang dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI CORONA

CORONA Karya Asep Perdiansyah Corona datang menyerang Dunia menjadi tak tenang Tempat keramaian seketika menghilang Matahari b...